SHARE

WAJAH ceria menghiasi sudut ruang sekolah di ujung Gunung Suling Rumpin. Di Kam­pung Haniwung, RT 09/03, Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, anak-anak yang biasanya belajar di bawah pohon kini sudah punya gedung baru. Berkat urunan banyak pihak, anak-anak yang sekolah di Kelas Jauh SDN Rabak 01 dapat merasakan belajar di ruangan yang tak lagi bilik. Wajah sekolah jauh di ujung gunung Rumpin ini kini su­dah berubah. Bilik bambu dan berlantai tanah sudah tidak dijumpai lagi, melainkan bangunan berdinding dan berlantai keramik.

Bangku dan meja usang pun sudah diganti baru. Anak-anak pun makin semangat pergi ke sekolah meski mereka semen­tara harus digilir. Apalagi sejak dibangunnya dua kelas baru untuk 49 siswa.

Guru honorer Mulhat Iskan­dar mengaku bahagia melihat anak-anak bisa bersekolah. Ia mengatakan, pembangunan sekolah ini berkat bantuan dari banyak pihak, kecuali pemerintah daerah. Seperti yang selama ini diberikan PT PLN Persero Transmisi Jawa Bagian Tengah.

“Akhirnya punya gedung baru. Saya juga nggak nyang­ka dapat bantuan sampai Rp300 juta. Jadi sekarang pu­nya dua ruang kelas baru dan satu ruang guru dengan ang­garan Rp300 juta,” sebutnya.

Perwakilan dari SDN Rabak 01 Nesih mengaku berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pemban­gunan ruang kelas baru ini. Dengan harapan, melalui ru­ang kelas baru ini para murid dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sehingga, mereka dapat men­jadi guru penerus di Kampung Haniwung nantinya.

“Kita berharap semoga ada guru penurus dari warga si­ni sendiri nantinya. Kita juga penginnya ada SMP terbuka di sini agar para murid yang sudah lulus SD bisa dilanjut ke jenjang SMP,” kata perempuan yang akrab disapa Ibu Enes.

Mantan Kepala SDN Rabak 01 ini juga berharap pemerintah dapat memberi kesejahteraan bagi dua guru honorer yang mengabdi di Kelas Jauh SDN Rabak 01. Karena jika dilihat dari penghasilan per bulan yang didapat, jumlah itu kurang dari kata cukup. “Semoga kes­ejahteraan gurunya juga dapat diperhatikan. Kasihan mereka juga memiliki keluarga dan han­ya digaji Rp700 ribu per bulan,” tutup perempuan berkerudung tersebut.

Terpisah, Deputi Manajer Hu­kum PLN TBT Kendro Gunawan mengatakan, pemberian bantu­an ini sengaja dilakukan. Sebab, kondisi dan fasilitas sekolah ke­las jauh sangat memprihatinkan dan minim sehingga menjadi perhatian pihaknya peduli du­nia pendidikan.

“Setelah 72 tahun merdeka, sepertinya tidak berlebihan apabila anak-anak di Kam­pung Haniwung mendapatkan pendidikan dengan mutu yang layak seperti halnya anak-anak di perkotaan,” kata lelaki yang akrab disapa Kendro.

Ia berharap bantuan melalui CSR perusahaannya ini dapat dijaga dengan baik, sehingga dapat bermanfaat untuk me­ningkatkan mutu pendidikan siswa/i yang bersekolah di sini. “Kita juga berharap ma­syarakat dapat ikut memiliki kepedulian dengan menjaga dan merawat sekolahan ini,” ujarnya.

(rez/c/feb/run)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY