SHARE

Nama Johannes Marliem mencuat. Namanya yang disebut-sebut sebagai saksi kunci korupsi KTP-el justru dikabarkan meninggal dunia di Los Angles (LA). Johannes diketahui menjadi bos provider produk Automated Finger Print Identification System (AFIS) merek L-1 yang teknologinya dipakai untuk proyek KTP-el. Lalu, siapa sebenarnya Johannes?

NAMA Johannes muncul dalam surat tun­tutan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap terdakwa Irman dan Sugiharto. Johannes juga disebut-sebut memberikan uang kepada sejumlah pihak, termasuk terda­kwa Sugiharto. Bahkan, terdakwa juga sempat membeli sebuah mobil dengan uang yang diterima dari Johannes.

Namun, ia justru dikabarkan tewas di LA, Kamis (10/8). Di dunia maya, tak banyak jejak yang ditinggalkan Johannes. Kendati begitu, pria asal Indonesia berusia 33 tahun ini pernah disebut-sebut dalam kisaran para elite dunia.

Nama Johannes pernah dikait­kan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Bah­kan, dirinya jadi penyumbang dana terbesar Obama dari Min­nesota. Tak tanggung-tanggung, Johannes menyumbang donasi US$ 225.000 atau setara Rp2,92 miliar (US$ = Rp13.000).

Jumlah ini terbilang fantastis, sebab hanya terpaut sedikit dari sumbangan sederet pe­rusahaan raksasa AS. Contoh, ExxonMobil menyumbang US$ 25.000, lebih tinggi atau sebesar US$ 250.000.

Tak cuma itu, sang istri, Mai Chie Thor, pun turut membena­mkan uang di panggung politik. Thor yang tercatat sebagai ibu rumah tangga di data Federal Election Commission, pernah menyumbang US$ 100.000 un­tuk Obama Victory Fund 2012.

KPK membenarkan bahwa salah satu saksi terkait kasus KTP-el, Johannes Marliem, me­ninggal dunia di Amerika Seri­kat. “Informasi benar Johannes Marliem meninggal dunia, teta­pi kami belum dapat informasi yang rinci karena peristiwanya terjadi di Amerika Serikat,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Jumat.

Febri menyatakan bahwa ka­sus kematian Johannes secara lebih rinci menjadi domain dari otoritas atau penegak hukum setempat. Ia pun menegaskan bahwa penyidikan kasus KTP-el akan tetap berjalan karena pe­nyidik memiliki bukti kuat terkait kasus tersebut.

(de/feb/run)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY