SHARE

BPTJ TURUN TANGAN ATASI MACET DI BOJONGGEDE

Demi mengatasi kemacetan yang terjadi di kawasan Stasiun Bojonggede, Badan Pengelolaan Transportasi Jabodetabek (BPTJ) merencanakan membuatkan jembatan penyeberangan yang menghubungkan stasiun dengan Terminal Bojonggede. Jika pembangunan jembatan tidak teralisasi, BPTJ akan membangun mal dengan konsep Transit Oriented Development (TOD).

KEPALA Bidang Sarana dan Prasarana pada Bappedalitbang Kabupaten Bogor Ajat Rohmat Jatnika mengatakan, ada dua alternatif yang disertakan dalam Detail Engineering Design (DED) pada rencana pembangunan tempat transit di kawasan Bojonggede, Kabupaten Bogor. Alternatif yang direncanakan yakni dengan membangun jembatan penyeberangan. Jembatan itu nantinya akan menghubungkan stasiun dengan Terminal Bojonggede. Sedangkan yang kedua dengan konsep TOD yang mengadopsi tata ruang campuran dan maksimalisasi penggunaan angkutan massal disekitaran terminal. “Jika mengunakan konsep TOD dengan konsep pengembangan ke arah bisnis, kemungkinan besar akan ada Mall di Bojonggede,” katanya.

Ajat menjelaskan, pembangunan ini bertujuan untuk menghilangkan macet di kawasan Stasiun Bojonggede. Untuk pengerjaan pembangunan jembatan penghubung antara stasiun dan terminal Bojonggede rencanyanya yang akan mengerjakanya dari BPTJ. “Lahanya harus dibebasan lahan dilakukan oleh BPTJ, tapi sejauh ini masih dalam pembahasan,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Angkutan pada Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor, Dudi Rukmayadi menuturkan, saat ini pihaknya telah mengajukan usulan untuk pengembangan terminal Bojonggede yang terintegrasi dengan stasiun bojonggede.

Nantinya, Skybride itu akan melintang diatas jalan raya Bojonggede, sehingga penumpang kereta yang turun di stasiun bojonggede langsung menyebrang ke arah terminal yang memiliki luas 15.387 meter persegi, tujuanya untuk mengurangi kemacetan di sekitar stasiun. DED akan segera dibuat tahun ini oleh BPTJ yang berada dibawah Kementrian Perhubungan. “Jadi angkot itu ngetemnya di dalam terminal bukan di depan stasiun. ” bebernya.

Menangapi hal tersebut, Kepala Desa Bojonggede Dede Malvina mengaku, dari desa hingga kini belum mendapat laporan akan di bangun mall di kawasan Bojonggede. Pemdes dan masyarakat tentunya menolak keras jika di bangun mal tanpa diperbaiki dulu infrastrukturnya. Sebab, lebar Jalan Raya Bojonggede hanya delapan meter, sehingga tidak mungkin di bangun mall yang ada berdampak kemacetan. “Kalau infrastrukutrnya belum diperbaiki, kita menolak dibangun mal. Yang ada malah tambah parah macetnya,” tutupnya.

(ads/b/els)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY