SHARE

METROPOLITAN – Usai melengkapi berkas, Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polresta Bogor Kota akhirnya melimpahkan kasus duel maut atau Gladiator antarpelajar SMA Budi Mulya dan SMA Mardi Yuana ke Kejaksaan Negeri Kota Bogor. Tiga tersang­ka BV, HK dan MS tiba di kantor Kejari Kota Bogor, kemarin.

Sekitar pukul 16:45 WIB dengan menggunakan sedan bernopol B 1630 PVF, tiga ter­sangka tiba di kantor Kejari Kota Bogor di Jalan Djuanda. Penyidik dari Polresta Bogor Kota hanya menyerahkan tiga dari empat tersangka yang di­kenakan Undang-Undang Per­lindungan Anak. Sedangkan satu tersangka TB masih di Mapolresta Bogor Kota dalam pelengkapan berkas perkara. Polisi juga menyerahkan se­jumlah barang bukti kepada jaksa.

Kepala Seksi Intel Kejari Kota Bogor Andhie Fajar Aryanto mengaku telah menerima tiga tersangka dan barang bukti dari pihak penyidik Polresta Bogor Kota terkait kasus Gla­diator. Tiga tersangka penyidik di antaranya BV, HK dan MS.

“Mereka sudah selesai penyi­dikannya oleh penyidik, sedang­kan satu tersangka lagi masih dalam proses dan belum dise­rahkan kepada kita,” ujarnya kepada Metropolitan.

Setelah dilakukan penelitian, pihak penuntut umum mengambil sikap untuk menahan para tiga tersangka dan menitipkan­nya ke Lapas Paledang lima hari ke depan. “Untuk saat ini kita titipkan dulu mereka di Lapas Paledang sebelum nanti­nya berkas dilimpahkan ke Pengadilan Kota Bogor untuk disidangkan,” terangnya.

Untuk mempertanggungja­wabkan perbuatannya, men­urut Andhie, ketiga tersangka dijerat Pasal 80 Ayat 3 jo Pasal 76 huruf C UU Nomor 35 Ta­hun 2014 tentang Perubahan atas UU 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. “Maksimal mereka terancam 15 tahun penjara dan dengan Rp3 mi­liar,” paparnya.

Sementara itu, pengacara kor­ban Dudung Abdullah menje­laskan, kedatangan pihaknya ke Kejari Bogor untuk mengawal kasus tersebut agar bebas dari intervensi siapa pun. Ia meny­erahkan sepenuhnya kasus tersebut ke pihak berwajib.

”Kita kawal kasus ini dari awal mulai dari pemeriksaan di Pol­resta Bogor Kota hingga saat ini yang memasuki tahap dua,” kata Dudung.

Untuk menegakkan keadilan, Dudung bersama sejumlah pengacara lainnya membentuk tim Justice For Hilarius. Hal itu agar penegak hukum bertindak secara profesional dan adil da­lam menangani kasus tersebut. ”Semuanya kita serahkan ke penegak hukum karena kita tidak intervensi apa pun. Kita hanya mengawal kasus ini agar berjalan sebagaimana mestinya,” tuturnya.

Pengacara lainnya Roy Siani­par menambahkan, dengan dilimpahkannya kasus ini harus ada pihak-pihak lain yang ikut bertanggung jawab. Hal itu nantinya dilihat dari peng­embangan kasus tersebut. ”Bi­arkan nanti aparat yang mengembangkan kasus ini, karena saya tidak ingin meng­gurui proses hukum yang ber­jalan,” jelasnya. Roy juga menga­ku pihak kejaksaan diharapkan dapat menjalankan aspek-aspek hukum dengan baik. Karena kasus gladiator ini akan men­jadi pelajaran bagi yang lainnya. ”Dengan adanya kasus ini kita dapat belajar, sehingga tak ter­jadi lagi kasus seperti ini,” ung­kapnya.

Sementara itu, orang tua kor­ban tak kuasa menahan haru ketika menjawab pertanyaan wartawan di depan kantor Ke­jari. ”Saya hanya menunggu keadilan supaya keadilan itu ada buat kami keluarga korban. Pembelajaran supaya tak ter­jadi lagi,” kata ibu korban, Ma­ria Agnes terharu.

Para tersangka tiba di kantor Kejari Kota Bogor mengguna­kan satu unit mobil sedan putih. Ketiga tersangka ditu­runkan satu per satu meng­gunakan penutup kepala hingga memasuki ruang pe­meriksaan. Hingga berita ini ditulis, pihak kejaksaan belum bisa memberikan keterangan karena masih melakukan pe­meriksaan terhadap para ter­sangka.

(mam/c/els/py)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY