SHARE

METROPOLITAN – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus berupaya menuntaskan ‎kasus dugaan suap kepada auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Sigit Yuhoharto (SGY) terkait pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) terhadap PT Jasa Marga (Persero) tahun 2017.

Demi melengkapi berkas kedua tersangka di kasus ini, yaitu Sigit Yuhoharto (SGY) Auditor Madya pada Sub Auditorat VII.B.2 BPK‎ dan General Manager nonaktif PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi, Setia Budi (STB).

Hari ini, Rabu (12/10/2017) penyidik mengagendakan pemeriksaan pada dua saksi. Mereka adalah pegawai di BPK RI dan PT Jasa Marga.

“Dua saksi yang diagendakan diperiksa untuk tersangka SGY dan STB ialah Imam sutaya, pegawai BPK RI dan Sucandra, pegawai PT Jasa Marga Cab CTC,‎” ungkap Febri.

Atas kasus ini, Direktur Utama PT Jasa Marga, Desi Arryani pernah diperiksa sebagai saksi‎ pada Rabu (25/9/2017) lalu baik bagi Sigit maupun bagi General Manager nonaktif PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi, Setia Budi (STB).

Selain Desi, penyidik juga beberapa kali memanggil anggota Satuan Pengawas Internal PT Jasa Marga untuk mendalami soal Setia Budi.

Diketahui KPK menetapkan Sigit dan Setia Budi sebagai tersangka dugaan suap terkait pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) terhadap  PT Jasa Marga Tbk, yang dilakukan tahun ini atas penggunaan anggaran tahun 2015 dan 2016.

Setia Budi diduga memberikan satu unit motor Harley-Davidson seharga Rp115 juta kepada Sigit untuk mempengaruhi hasil pemeriksaan dari tim BPK. Sigit merupakan ketua tim pemeriksaan terhadap PT Jasa Marga Tbk cabang Purbaleunyi.

Dari hasil awal PDTT tersebut, BPK menemukan dugaan kelebihan pembayaran dalam pekerjaan pemeliharaan periodik, rekonstruksi jalan dan pengecetan marka jalan yang dilakukan PT Jasa Marga cabang Purbalenyui.

Atas perbuatan itu, Sigit yang diduga penerima suap dijerat dengan pasal 12 huruf b atau pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001.

Sedangkan Setia Budi yang diduga sebagai pemberi suap disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001.

sumber : tribunnews.com

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY