News, Sport and Lifestyle

Bodohnya Aku Ingin Kaya dari Jualan Narkoba

Namaku Edi. Aku lahir tidak sem­purna. Kadang ada perasaan rendah diri dan menganggap hidup tidak berarti, merasa tidak berguna, atau semacamnya. Aku memang lahir dengan tubuh yang berbeda. Aku sering menerima ejekan dan hinaan dari teman-teman sepermainan. Belum lagi dengan kondisi ekonomi keluarga yang miskin dan terjerat hutang, aku terpaksa putus sekolah.

DALAM keterpurukan inilah aku memutuskan untuk fokus mencari uang yang banyak. Aku nggak mau jadi orang miskin, aku mau jadi orang kaya. Karena menurutku ini solusi untuk bisa melepaskan diri dari keadaan yang serba terbatas saat itu. Sekaligus juga agar dihormati orang lain. Aku berusaha keras untuk mengubah hidup terlepas dari bagaimanapun caranya, baik itu benar atau salah. Sampai suatu hari, aku memilih mencari kerja lewat kenalan. Aku berusaha mendekati orang yang lebih dewasa. Pergaulan inilah yang mengenalkan aku pada rokok, ganja dan judi.

Setelah beberapa tahun, keadaan ekonomi aku punberubah. Aku merasa seperti bos. Kemana-mana punya teman. Uang yang dimenangkan dari meja judi pun selalu dihabiskan untuk foya-foya. Meskipun uang habis, aku merasa bangga karena bisa menghamburkan uang. Selain judi, aku juga pemasok ganja. Untung besar yang didapat membuatku tertarik untuk melakoni bisnis terlarang ini. Bahkan meski pernah ada kejadian menghilangkan satu paket daun ganja yang mengakibatkan aku rugi besar tak membuat aku jera.

Aku malah berusaha mencari peruntungan yang baru dengan bidang yang sama di Jakarta. Aku berencana untuk menjadi bandar narkoba. Awalnya, berperan sebagai kurir putaw. Saat pertama kali diperlihatkan putaw, aku tergiur untuk mencobanya. Meskipun telah dilarang teman, aku tetap tidak mendengar dan tetap mencicipinya. Perlahan tapi pasti, aku bukan hanya menjadi kurir tapi juga menjadi pecandu. Sampai aku menjadi target operasi polisi.

‘Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga’, peribahasa ini yang bisa menggambarkan situasi aku saat ditangkap polisi. Setelah sempat mengelabui polisi, aku akhirnya tertangkap tangan membawa narkoba dan terbukti bersalah sebagai kurir. Aku pun harus menjalani kehidupan di sel penjara. Selain merasakan dinginnya jeruji besi, aku juga harus bertahan melawan keinginannya untuk mengonsumsi putaw. Di dalam penjara aku sakaw dan tidak ada yang bisa menolong. Baik bos besar hingga keluarga, tidak ada satupun yang memperhatikanku.

Dalam kesakitan itu, aku teringat Tuhan. Tuhan selalu baik, saya tidak menyangka bahwa hidup saya bisa diubahkan Tuhan. Saya pikir hidup ini sudah tidak berguna, tidak berarti. Tidak ada yang mau menerima dan peduli pada saya. Namun saya benar-benar dikuatkan dengan Tuhan yang mau menerima saya. Saya bersyukur masih diberikan kesempatan untuk berubah.

Seperti yang diceritakan Edi pada jawaban.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *