Miras Campur Obat Batuk Tewaskan Pemuda Curug

by -10 views

METROPOLITAN    Tiga pemuda tewas usai menenggak minuman keras (miras) oplosan di sebuah rumah kontrakan di RT 03/01, Kampung Curug, Kelurahan Curug, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, kemarin. Mereka menenggak miras yang diduga dicampur obat batuk.

KAPOLSEK Bogor Kompol Pahyuniati membenarkan peristiwa tersebut. Namun, dirinya belum dapat memastikan penyebab kematian korban. Peristiwa terjadi saat kor­ban bersama teman-temannya melakukan pesta miras oplosan. Diduga miras tersebut dicampur obat batuk lantaran banyaknya bungkus obat batuk di lokasi kejadian. “Un­tuk sementara baru dua yang kami data dan belum kami pastikan penyebab mening­galnya. Pihak keluarga kebe­ratan untuk diotopsi,” tuturnya.

Ketua RT 03 Ani mengaku tidak mengatahui secara pas­ti kronologi kejadian tersebut. Namun, dirinya menjelaskan, Danar (22) ditemukan tak ber­nyawa Rabu (08/11) sore hari di lokasi kejadian, sedangkan Sofian (23) sempat dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Dr. Hassan Toto (AURI) dan mendapatkan perawatan. Namun sayang, sekitar pukul 11:00 WIB nyawa remaja tersebut tak dapat ter­tolong. “Saya hanya menda­patkan laporan dari warga sekitar, kalau cerita pastinya saya tidak tahu,” jelasnya.

Di tempat lain, salah satu anggota Ikatan Remaja Curug Permai (IRCP) yang namanya enggan dikorankan mengung­kapkan kontrakan yang men­jadi Tempat Kejadian Perka­ra (TKP) itu sering disebut dengan ’Kontrakan Pak Juma’. Lokasinya berada di tempat terpencil. Kontrakan yang sudah diberi garis polisi itu seringkali menjadi sarana pelampiasan muda-mudi melakukan hal negatif. Hal tersebut yang membuat war­ga sekitar merasa geram dan terganggu. “Kami sering tegur penghuni kontrakan tersebut, khususnya pasangan muda-mudi, tapi begitu tetap ban­del,” ujarnya kepada Metro­politan, kemarin.

Ketua RW 01 Yatman men­gatakan, pihak RW, RT juga kelurahan, sering memberikan peringatan kepada pemilik kontrakan tersebut. Namun pemilik kontrakan masih saja membandel, seolah acuh tak acuh terhadap teguran itu. “Sudah sering kita panggil, kita sidak, diberi peringatan, sudah kita lakukan, tapi cuma seminggu atau dua minggu mereka nurut, nanti kesannya gitu lagi,” kata Yatman.

Pasca-kejadian tersebut, lanjut Yatman, dirinya akan memperketat pengusaha bisnis kontrakan untuk tidak sembarang memberikan orang izin menempati kontrakan­nya. Hal ini untuk mencegah kejadian serupa terulang. “Kejadian ini jadi perhatian kami. Ke depan kami akan perketat semuanya melalui data yang lengkap untuk para penghuni kontrakan,” pungkasnya.

(cr2/c/els/py)