News, Sport and Lifestyle

Rumah Tanggaku seperti Neraka (Habis)

Saat aku mendengar vonis dokter itu, aku seperti disambar halilintar. Aku gemetaran, badanku lemas, seperti mau jatuh. Aku bilang sama kakakku, kalau aku sakit kanker pasti aku mati. Bagaimana dengan dua anakku ini. Aku pikir, pasti suamiku kawin lagi.

AKU juga memberikan anakku yang perempuan ini sama kakak. Anggap saja anak sendiri. Anakku yang perempuan ini baik kok. Tapi yang lelaki ini sama siapa ya? Kakakku bilang, udah jangan ngomong kayak gitu, nanti juga kamu sembuh. Di tengah-tengah kebimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk menjalani operasi pengangkatan payudara. Namun belum sembuh rasa sakitnya, sesuatu terjadi atas suaminya. Lewat sambungan telepon dari rumah sakit, memberitahu kalau suamiku kecelakaan. Matanya Bu yang parah, badannya sih nggak apa-apa. Matanya sih yang kena, yang parah.’ Perasaanku sedih, aku sendiri sakit belum sembuh, kok sudah kecelakaan lagi. Aku sudah merasa berdosa. Aku mulai bertanya-tanya dalam hati, Dosa apa ya keluarga kita ini, kok masalah demi masalah datang bertubi-tubi. Dosa apa ya?’ Aku merasa diskor sama Tuhan satu-satu, aku kehilangan satu payudara dan suamiku kehilangan satu mata.”

Tetapi kemalangan aku alami dan keluarganya tidak berhenti di situ. Setelah dia sakit, suaminya kecelakaan dan sempat mengalami kemalingan, sehingga usaha aku pun bangkrut. Semua uangnya habis untuk biaya pengobatannya dan operasi sang suami. Tidak bisa terbayangkan betapa sedihnya aku saat itu, betapa kecewanya aku. Bahkan pernah muncul keinginan untuk bunuh diri. Aku pikir kalau aku mati, aku sudah tidak melihat apa-apa lagi. Tapi muncul dalam benakku, kalau aku mati anak-anakku dengan siapa ya..?”

Permasalahan demi permasalahan membuat aku terpaksa merendahkan diri. Namun ternyata hal ini malah menjadi awal titik balik kehidupannya. Aku sempat kerja sebagai pembantu hotel dan digaji hanya Rp300 ribu. Yang tadinya memerintah orang, sekarang diperintah orang. Aku juga pernah dimaki-maki oleh majikanku. Namun hal itu membuat aku bangun, aku sadar, kalau aku tidak boleh hidup seperti yang dulu lagi. Aku harus berubah. Aku merasa sudah jatuh ke titik terendah hidupnya. Melalui ajakan seorang teman, aku mengikuti sebuah kegiatan rohani dan ternyata melalui hal itu aku menemukan titik terang untuk keluar dari kemalangan yang dialaminya.

Waktu aku dengar kotbah itu, aku sudah mengucurkan air mata. Waktu dipanggil siapa yang mau didoakan, aku yang paling pertama maju. Aku merasa sangat berdosa. Aku tahu, aku berdosa sama suamiku, aku galak sama suamiku. Aku pukul-pukul dadaku sambil berseru, ”aku orang berdosa, aku orang berdosa, ampuni aku Tuhan.’ Kemudian anakku datang memelukku dan bilang, ”Ampuni aku, Mami.. ampuni aku, Mami..’ lalu dia memeluk suamiku, ”ampuni aku, Papi..ampuni aku, Papi..’ dan aku pun lakukan hal yang sama, ”Ampuni mami io… Kan saya bersalah toh.. karena aku tidak mendidik anakku dengan benar.

Seperti yang diucapkan Tanti kepada jawaban.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *