News, Sport and Lifestyle

Sembilan Tahun Menikah, Aku tak Dicintai Suami

Sembilan tahun usia pernikahan kami dan saat ini aku dikarunia 3 putri. Saat ini usiaku 31 dan suami 30 tahun. Awal pernikahan aku kira dia mencin­taiku karena dia begitu lembut kepadaku, tapi semakin lama usia pernikahan kami semakin tercium bau-bau tak sedap.

SUATU malam dia manggil sebuah nama di tidur lelapnya, ketika dia terbangun kutanyakan siapa yg dia panggil-panggil malam itu. Dia pun menutupi dan menjawab bukan siapa-siapa. Aku pun berharap dia bukan siapa-siapa. Tapi kenyataan berkata lain saat dia mengungkap kebenaran itu. Wanita itu adalah dia yang selama ini mengisi hatinya dari jaman dia sekolah sampai saat ini.

Dan yang bikin nyesek itu dia mengatakan kalau wanita itu tak bisa tergantikan oleh siapapun, cintanya cuma buat wanita itu sekalipun status dia suamiku, dan diapun tak bisa mencintai saya sekalipun aku ibu dari anak-anaknya. Dia itu suami yang sangat menyayangi anak-anaknya tapi tidak denganku, aku berusaha ikhlas menerima kenyataan ini. Sekalipun dia tak pernah mencintaiku tapi aku sangat mencintai dia.

Kuhabiskan waktuku untuk mengurus kebutuhan suamiku dan anak-anakku dengan harapan rasa cinta itu tumbuh perlahan karena kebiasaan bersama, tapi tidak dengan suamiku dia tetep gak bisa mencintaiku. Cinta memang nggak bisa dipaksakan ya sudahlah aku terima keadaan ini. Hingga suatu hari saat aku dan anak-anak menetap di kampung halamannya, dia memutuskan untuk kos sendiri di kota. Waktunya pun dia habiskan bersama wanita penghibur di tempat karaoke.

Seperti ada petir yang menyambar di hatiku ketika terungkap suamiku selalu mengunjungi tempat lokalisasi terbesar di kota itu. Kembali aku menenangkan diriku sendiri demi anak-anak. Aku semakin gak kuat dengan keadaan ini hingga akhirnya aku jatuh sakit dan masuk rumah sakit karena pembengkakan hati,,, Ya Allah cobaan apalagi, saat aku sakit pun dia terus kasar dan menyakiti hatiku dengan kata-kata yang nggak enak didengar. Ya Allah kuatkan aku. Aku memang istri yang tergolong cerewet, aku selalu berani kalau dia kasar sama aku. Pernikahan kami bagaikan gelas yang sudah retak, kami sering bertengkar karena banyak hal.

Tiap kali aku ngomong pasti selalu salah dan bikin kemarahan dia,, tubuh ini seakan sudah kebal dengan pukulannya, hati ini sudah kebal dengan makiannya. Aku sudah tidak kuat dan aku ingin pisah dengannya,,, dalam hati Tuhan maafkan aku. Dia ngga mau menceraikan saya dengan alasan anak-anak. Ya sudah aku harus kembali menerimanya.

Seperti yang diceritakan seseorang pada ceritacurhat.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *