News, Sport and Lifestyle

Siswa Berbagi Ruang Kelas untuk Belajar

METROPOLITAN – Reruntuhan atap masih terlihat di SD Negeri 1 Cipinang. Puing-puing plafon yang berserakan jadi bukti lapuknya kondisi sekolah di Kampung Janala, Desa Cipinang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Pasca ambrolnya plafon, para siswa pun diungsikan ke ruangan lain hingga terpaksa menumpuk dalam satu ruangan.

Anak-anak kelas satu terpaksa belajar satu ruangan dengan siswa kelas enam pada Senin (13/11). Sebab, plafon kelas mereka ambruk pada Sabtu (11/11) pagi. Menurut Kepala SD Negeri 1 Cipinang Umama, ambruknya plafon tersebut disebabkan karena kondisi material yang sudah lapuk. “Ambruknya kurang lebih pukul 09:30 WIB,” ujar Umama.

Beruntung, kejadian tersebut tidak menyebabkan korban jiwa. Saat roboh, Umama menjelaskan, anak-anak kelas satu yang berjumlah 19 orang tengah berada di lapangan untuk menjalani kegiatan belajar luar ruang.

Karena tidak layak digunakan lagi, murid kelas satu harus berbagi kelas dengan murid kelas enam yang berjumlah 33 orang. Dari total empat baris meja yang ada, dua baris di antaranya untuk kelas satu. Karena itu, ini tak efektif untuk kegiatan belajar mengajar. “Tapi daripada mereka di teras yang kotor, belum lagi kalau hujan,” kata Umama.

Untuk kegiatan belajar mengajar pada Selasa (14/11), siswa kelas satu akan ditempatkan di ruangan kantor kosong yang sudah tidak terpakai. Meski pas-pasan, Umama mengatakan, terpenting anak bisa belajar dengan kondisi memadai tanpa perlu berbagi ruang kelas lagi.

Ini bukanlah kejadian pertama di SD Negeri 1 Cipinang. Umama menuturkan, beberapa bulan lalu ruang kelas empat juga mengalami hal serupa. Meski sudah melaporkan ke kecamatan dan Unit Pelaksana Teknis (UPT), namun belum ada tindak lanjut. Dampaknya, plafon di ruang kelas empat masih terbengkalai hingga kini.

Besok Umama didampingi Komite Pemantau Legislatif (Kopel) Indonesia berencana mendatangi Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor. “Kami akan melaporkan kondisi ini sekitar pukul 10:00 WIB,” ujar Koordinator Divisi Advokasi Anggaran Kopel Indonesia Anwar Razak.

Sementara Kopel meminta sekolah tidak menggunakan kelas tersebut karena berisiko. Anwar mengaku sudah menghubungi DPRD dan pemerintah daerah namun belum mengambil tindakan cepat.

Sebelumnya, Anwar menjelaskan, Kopel dan pihak sekolah sudah melaporkan terkait kondisi bangunan SD Negeri 1 Cipinang ke pemerintah daerah. Bahkan sudah diusulkan berkali-kali melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan. “Pihak UPT kelihatannya sudah lepas tangan dan dinas hanya bisa berjanji,” tuturnya.

(sir/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *