News, Sport and Lifestyle

Suami, Maafkan Aku yang Sempat Meminta Cerai (1)

Namaku Risa, aku seorang mahasiswi sekaligus karyawati. Seharusnya aku tidak perlu malu memiliki suami yang hebat seperti Maimun. Sosoknya yang bertanggungjawab, rajin, ulet dan penyabar akhirnya berhasil mengangkat martabat keluarganya. Meski Maimun bukan seorang sarjana, tapi ia telah banyak membantuku sehingga aku berkuliah dan bekerja di perusahaan yang bagus.

Dulunya pernikahan mereka tak pernah dinyana-nyana bakal semapan sekarang oleh keluarga kami masing-masing. Pernikahan terjadi ketika usiaku masih belia. Cerita berawal ketika aku pernah merengek minta dibelikan HP ke orang tua di masa SMK. Sebelumnya, orang tua memang bersikap protektif dan sangat mendorongku untuk berprestasi di dunia akademis, sehingga apa saja yang berlawanan dengan itu pasti dilarang. Akhirnya, setelah dibelikan HP, aku berkenalan dengan Maimun yang saat itu seorang tamatan SMP.

Sama-sama larut dalam kenyamanan, kami berdua akhirnya berpacaran secara diam-diam. Setelah lulus, aku menjadi benci belajar karena merasa makin dikekang orang tua. Aku ingin terbebas dari tekanan orang tua untuk kuliah, sehingga memilih pergi dari rumah dan bekerja diam-diam di daerah Bogor sebagai pelayan restoran. Saat itu posisi Maimun sedang bekerja di Surabaya.

Setelah beberapa bulan bekerja, aku merasa tak bisa menikmati pekerjaan. Aku pun akhirnya menelepon Maimun karena ingin ikut dengannya di Surabaya. Oleh Maimun, aku pun langsung dijemput. Tapi bukannya diboyong ke Surabaya, tapi malah dibawa pulang ke rumah menemui orang tuaku. Orang tuaku berang bukan kepayang. Mereka menuduh Maimun telah menculikku. Saat itu Maimun langsung diusir dari rumah dan aku dikurung di kamar. Aku pun merasa tambah frustrasi karena keinginan tidak dituruti dan marah besar dengan Maimun.

Usai kejadian itu, Maimun berusaha menunjukkan itikad baik kepada keluargaku. Ia bersama saudaranya terhitung sudah tiga kali datang ke rumahku untuk melamar. Namun selama tiga kali pula ia ditolak mentah-mentah, bahkan diusir. Orang tuaku beralasan bahwa pernikahan suku Sunda-Jawa adalah haram hukumnya.

Karena melihat kegigihan Maimun, hatiku pun akhirnya meleleh juga. Aku pun sering keluar diam-diam untuk menemuinya. Aku sering mendatangi Maimun dan keluarganya. Aku mengaku malah mendapatkan kenyamanan dengan keluarga Maimun. Karena kehabisan akal, akhirnya, Maimun dan keluarganya merencanakan skenario. Aku pura-pura ke bidan dan kebetulan temannya sedang hamil. Kami minta tolong tes urin temannya itu dituliskan atas namaku agar bisa menceritakan ke orang tua kalau aku hamil. Orang tua Maimun pun mendatangi dan membujuk orang tuaku bahwa mau tidak mau kami harus dinikahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *