News, Sport and Lifestyle

Suami, Maafkan Aku yang Sempat Meminta Cerai (Habis)

METROPOLITAN –  Ternyata skenario tak semulus yang diduga. Orang tua aku jelas kaget dan curiga. Hari berikutnya ibuku menje­mput ke rumah Maimun lalu menga­jak aku pulang. Ibu menyuruh untuk meminum jamu penggugur kandun­gan, tapi aku menolak dan bisa menghindar.

ORANG tua aku yang masih tak percaya, akhirnya memaksa aku untuk periksa ke dokter. Karena tak bisa mengelak, akhirnya orang tua pun tahu kalau anaknya hamil adalah skenario belaka. Mengetahui kebohongan tersebut, orang tua aku langsung mendatangi orang tua Maimun untuk mendiskusikannya secara kekeluargaan. Namun sebelumnya, kabar kehamilan aku itu sudah terlanjur menyebar ke seluruh keluarga. Sehingga dengan terpaksa orang tua aku harus setuju menikahkan kami dengan beberapa syarat khusus. Syaratnya adalah selama dua tahun aku tak boleh pulang ke rumah orang tua, tak ada pesta pernikahan dan diharapkan tak boleh ada orang lain yang tahu soal pernikahan itu.

Ternyata setelah menikah, sifat Maimun malah berubah menjadi cuek dan kasar, padahal dulunya ia sangat penyayang. Karena makin merasa tak nyaman, aku lalu sering bermain media sosial, chatting, dan bertemu laki-laki lain. Sebut saja si A, pria asal Jakarta. Berbeda dengan Maimun, A adalah seorang yang berada, dan merupakan salah satu anak pejabat. Mulanya hanya chat, lama-lama ketemuan. Setiap ketemu, si A yang kerap membawa motor kesayangan sehingga membuat aku makin kepincut. Sering ngobrol-ngobrol akhirnya menjadi nyaman. Hubungan yang sudah terjalin itu membuat aku makin yakin jika Maimun bukan yang terbaik. Aku pun sudah berkali-kali meminta cerai kepada Maimun, namun Maimun tak pernah mau dan tetap berusaha mempertahankan rumah tangganya.

Saat itu aku merasa menyesal karena dulu tidak mendengarkan nasihat orang tua untuk tidak usah menikah dengan Maimun. Tetapi di balik itu semua, kerja keras Maimun membuahkan banyak hasil. Kami sudah punya rumah sendiri, bisa berkuliah dan mendapatkan jabatan bagus di pekerjaan. Semuanya berkat dukungan dan peran si Maimun juga. Sepertinya aku memang kurang komunikasi secara baik dengan suami. Aku justru merasa malu dengan teman kantor dan kampus untuk mengakui Maimun sebagai suami karena dia bukan pekerja kantoran dan anak kuliahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *