News, Sport and Lifestyle

Sulitnya Aku Melupakan Mas Rudi (2)

METROPOLITAN – Aku pun memberanikan diri menemui pria di masa laluku itu. Dia menjabat tanganku dan berkata “hai”. Aku merasakan genggamannya yang kuat dan bertanya, “Apa kabar mas?. Dia menjawab baik, “Kamu gimana Ci?, kamu agak gemukan, tapi masih tetap cantik kok,” gombalnya.

Dia mengomentari penampilanku. “oh ya Ci, anakmu berapa sekarang? laki apa perempuan?”. “Cuma satu mas, perempuan, dan sekarang sudah kelas enam SD, mas sendiri gimana,” Aku balik bertanya. “Anakku perempuan dua, yang tua sudah kelas lima. Ya ya pasti anakmu lebih tua kan kamu yang menikah duluan.”

Jawaban yang dia berikan seolah menuduhku, aku hanya diam tak menjawab, jantungku serasa terkoyak. Dan tiba-tiba dia begitu dekat denganku dan berbisik, “Kita buat anak laki-laki yukk.” Aku hanya tersenyum, dia tahu aku masih mencintainya. “Aku juga ingin punya anak laki-laki mas.” Dia melanjutkan pertanyaannya tadi, “Aku rasa aku masih bisa memberimu dua tiga anak.”

“Ih mas ngomong apa sih, eh aku pulang dulu yah, suamiku pulang kerja sore-sore, nggak enak kalau aku tidak di rumah,” jawabku memotong pertanyaannya. Dia berniat mengantarku tapi kutolak. Sebelum aku pulang dia meminta nomor hp dan alamatku. “Apakah aku masih mencintainya?” Aku bertanya dalam hati. Rasa senang bertemu dengannya tak bisa kusembunyikan, dunia ini rasanya cerah sekali. Ajakan gilanya tadi tentu saja mengganggu pikiranku.

Tiga hari kemudian, dia meneleponku mengajakku ketemuan. Tentu saja aku sangat senang, kusanggupi permintaannya untuk bertemu sepulang kerja nanti sore. Sejak pertemuan sore itu, aku semakin dekat dengannya dan kami semakin sering bertemu. Kami cerita banyak hal termasuk strategi bagaimana mendapatkan anak laki-laki.

Rasa sayangku semakin tumbuh kepadanya. Kami berdua menyadari tidak mungkin bersatu dalam ikatan pernikahan yang sah, aku memiliki suami dan dia memiliki istri. Kami berdua mencintai anak-anak kami. Tapi hati kami menyatu dan pendapat yang mengatakan bahwa cinta itu bukan memiliki sepertinya benar.

Sudah tiga bulan kami bermain kucing-kucingan dari suamiku dan istrinya. Aku sungguh merasa hidup berada di dekatnya, mungkin ini yang disebut puber kedua. Aku selalu ingin berada di sampingnya membelai rambutnya atau sekedar berbaring di pangkuannya. Tapi hubunganku dengannya tidak sebatas itu, aku akui aku salah tapi aku juga tahu aku tidak mungkin sanggup menolak ajakannya. Beberapa kali seminggu kami selalu berhubungan badan seperti suami istri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *