News, Sport and Lifestyle

Atasi Kabel Semrawut, Pemkot Bangun Mikrosel Sediakan Jaringan 4G

METROPOLITAN – Pemerintah Kota (Pemkot) sejak beberapa tahun terakhir menggaungkan cita-cita sebagai Smart City. Namun nyatanya teknologi informasi yang dimiliki Kota Hujan masih kalah dengan daerah-daerah lain seperti Jakarta, Tangerang, hingga Bali. Hal tersebut diakui Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Statistik Persandian (Diskominfostandi) Kota Bogor Firdaus.

Menurut dia, baru pada tahun inilah Kota Bogor akan menerapkan teknologi mikrosel, untuk mengurangi kabel-kabel yang bergelantungan. “Saat ini, zaman sudah berubah, menuntut perubahan infrastruktur kota. Salah satunya upaya menurunkan kabel-kabel yang bergelantungan. Pengembangan infrastruktur telekomunikasi juga tidak hanya terpaku pada menara telekomunikasi berukuran besar (macro tower) namun juga menara telekomunikasi mikrosel (microcell pole), yang memiliki ketinggian 20 meter dari permukaan tanah, ya seukuran PJU lah. Nah Kota Bogor jauh tertinggal dibanding kota-kota lainnya. Padahal penyangga ibukota,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur mikrosel menjadi salah satu terobosan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan jaringan 4G, yang selama ini menaranya tidak ada di Kota Bogor. Disamping itu, katanya, pembangunan infrastruktur mikrosel diklaim akan menguntungkan Pemkot dengan kontribusi pihak ketiga menyediakan CCTV, WIFI dan LED publik. “Kemampuan Pemkot Bogor untuk membangun infrastruktur pasif sulit, karena harus ada anggaran besar. Makanya, perlu mengadeng pihak ketiga,” ujarnya.

Firdaus menjelaskan, seiring dengan Perwali penerapan mikrosel yang selesai pada 2017, tahun ini, pihaknya menyiapkan estimasi 789 titik koordinat penerapan mikrosel se-Kota Bogor. “Itu hasil kajian satelit, ada siteplan dan beberapa dari kajian kami di lapangan. Pemkot Bogor hanya menyediakan lahan saja, menggandeng pihak ketiga untuk berkontribusi kepada masyarakat mengenai pembangunan mikrosel,” ucapnya.

Nantinya izin penerapan lokasi mikrosel, sambung Firdaus, merupakan fasos dan fasum dengan luas yang juga tidak terlalu lebar. “Semua pembiayaan dari mereka. Untuk mikrosel nanti hanya menyiapkan lahan dan mereka yang menempuh perizinannya,” tandasnya.

Firdaus menambahkan, nantinya pihak ketiga wajib memenuhi persyaratan utama, yakni harus bekerjasama dengan salah satu provider resmi. Semakin canggih teknologi yang diterapkan, maka akan semakin terlihat infrastrukturnya. “Mikrosel ini kan nantinya juga mempercepat jaringan 4G. Jadi Kota Bogor nantinya tidak akan ada jaringan-jaringan yang lemot. Kota Bogor sudah ketinggalan jauh soal mikrosel ini,” ungkapnya.

Menurutnya, sampai saat ini sudah ada beberapa perusahaan yang mengajukan kerjasama dan sedang proses perkajiaan. “Tiga tahun lalu sudah ada pihak ketiga yang ingin menerapkan mikrosel, tapi karena belum ada Perwali-nya, jadi tertunda. Kami ingin mengikuti aturan secara administrasi maupun teknis. Keberadaan provider ini juga sudah dikaji,” jelasnya.

Tahun ini, pihaknya memperkirakan ada 200 mikrosel bakal dibangun. Lambat laun dengan adanya mikrosel ini, menara-menara makro atau yang berukuran besar akan beralih ke mikrosel. “Sehingga turut mengurangi kabel-kabel yang bergelantungan,” pungkasnya. (ryn/b/els)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *