PCNU Kabupaten Bogor tak Persoalkan Pemimpin Perempuan

by -22 views

METROPOLITAN – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor baru saja menyelesaikan musyawarah kerja cabang (muskercab) di SICC Sentul, kemarin. Ada beberapa poin yang dibahas secara khusus saat muskercab. Di samping pendidikan, peningkatan informasi teknologi dan ekonomi, PCNU juga menekankan soal bidang sosial politik. “Isu pilkada juga menjadi poin yang dirumuskan bersama. PCNU secara institusi netral, politiknya politik kebangsaan, bukan politik kekuasaan. Tapi warga NU boleh menentukan pilihannya sesuai tingkat emosional dan pemahaman visi-misi calon tersebut,” ujar Ketua PCNU Kabupaten Bogor K H Romdon.

Dalam menentukan pemimpin, Romdon mengaku PCNU memiliki kaidah dan kualifikasi tertentu. Selain amanah, memiliki potensi dan prorakyat, tentunya PCNU akan melihat siapa figur yang lebih bermanfaat untuk NU. Selain itu, dirinya juga menegaskan, untuk memimpin Kabupaten Bogor, figur perempuan bukanlah halangan. “Itu sudah jelas sekali bahwa untuk memimpin Kabupaten Bogor, perempuan bukan halangan. Dan kalau ada yang dekat, kenapa mesti yang jauh. Tapi saya tidak memiliki kapasitas untuk mengajak atau menggerakkan organisasi NU, itu tidak boleh. Tapi kalau orang-orang NU sudah sangat paham sekali,” terangnya.

Saat ditanya soal sosok Ade Yasin, dirinya mengaku secara jam’iyah figur Ade Yasin memiliki kedekatan dengan NU. Selain sebagai Dewan Pembina Muslimat NU, secara genetika Ade Yasin lahir dari keluarga NU, di mana kedua orang tuanya pernah menjabat pengurus NU. Selain itu, Romdon menilai Ade yasin memiliki kompetensi dan pengalaman untuk maju. “Secara genetika juga bapak dan ibunya pengurus PCNU. Bapaknya Sekretris PCNU Bogor, ibunya Ketua Muslimat NU dua periode, kekeknya juga pernah menjadi Ketua Ansor dan pengurus NU,” kata Romdon.

Terkait posisi dukungan NU, Romdon mengaku NU tidak boleh mendukung secara instansi. Namun, warga NU bebas memilih pemimpinnya sesuai aspirasi masyarakat dan bermanfaat bagi masyarakat. Yang pasti, posisi NU akan bersinergi dengan pemerintah yang dipilih rakyat. Nanti rakyat memilih siapa dengan pemahamannya. Tapi tokoh NU di masing-masing kecamatan dan daerahnya harus bisa memberi pencerahan kepada masyarakat agar memilih pemimpin yang memiliki kompetensi dan saya pikir semua memiliki kompetensi,” pungkasnya.

(fin/b/ram)

Loading...