News, Sport and Lifestyle

saya istri muda pak haji…(2)

Sudah puluhan tahun aku menemani suamiku mengarungi bahtera rumah tangga. Bahkan sampai kami dikaruniai 4 orang anak yang sudah besar-besar tak pernah sekalipun ia mengutarakan niat untuk menikah lagi. Dan kini, seorang perempuan dalam kondisi hamil tua datang mengaku sebagai istri suamiku.

Lama aku terdiam. Terbayang wajah teduh suamiku yang tiba-tiba berubah menjadi wajah monster yang paling menakutkan bagiku. Aku berfikir, jadi selama ini dia izin keluar kota ternyata memang untuk bertemu istri simpanan. Aku tak habis fikir suamiku yang seorang guru dan ustadz yang kesehariannya mengajar dan berceramah tega memperlakukan istrinya sedemikian caranya.

Namun, aku mencoba untuk menguasai diri. Aku sampaikan ke perempuan itu kalau suamiku masih kerja dan kemungkinan pulang malam. Aku minta ia datang kembali esok pagi. Untungnya sang perempuan mengerti dan langsung berpamitan. Setelah perempuan itu berlalu. Aku masuk kamar dan menangis sejadi-jadinya. Anak-anakku mencoba untuk menenangkanku. Namun tak sedikitpun aku menghiraukan mereka. Aku lalu mengurung diri di kamar. Bahkan saat suamiku pulang dan biasanya aku menyambut dengan ramah, kali ini aku seperti kehilangan keinginan untuk berbaik-baik dengan nya. Suamiku tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang paling aku benci.

Ia menghampiriku dan kemudian bertanya ada apa. Aku hanya menjawab “gak apa-apa” sambil memunggunginya. Tak sedikitpun menoleh. Melihatku yang tak berkenan untuk diganggu dan pertanyaannya hanya aku respons seperlunya ia mengalah dan menjauh. Ia mungkin bingung mengapa aku tiba-tiba bersikap dingin dan tak peduli. Tapi, kebiasaan suamiku adalah meninggalkanku sementara jika aku melihat aku sedang tidak ingin diganggu.

Suamiku tidak bertanya ke anak-anak yang saat itu sedang berada di rumah mengapa aku tiba-tiba menjadi dingin dan mengurung diri di kamar. Namun, anak sulungku sepertinya sudah tak sabar akhirnya menceritakan duduk persoalannya. Samar-samar kudengar ia menjelaskan kepada ayahnya perihal kedatangan perempuan itu siang tadi. Dan, tak kudengar suamiku menanggapi. Ia mungkin langsung berangkat menuju masjid untuk shalat isya berjamaah setelah mendengar cerita anaknya. Aku berfikir barangkali suamiku merasa tertangkap basah akhirnya tidak menanggapi cerita anaknya. Dan itu membuatku semakin benci kepadanya.

Sepulang dari masjid kudengar ia mengaji dan tak muncul lagi di kamar. Ia memilih tidur di ruang tamu. Aku berfikir ia mungkin sedang menghimpun rasa sesal dan rasa bersalahnya karena tertangkap basah punya istri simpanan. Aku tak peduli, tapi justru malah membuat air mataku mengalir makin deras. Aku menangis dalam diam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *