News, Sport and Lifestyle

saya istri muda pak haji…(3)

Sebelum subuh ia membangunkanku untuk salat tapi tak ku hiraukan. Saat ku dengar ia sudah berangkat menuju masjid untuk salat subuh aku beranjak ke kamar mandi kemudian berwudhu. Aku salat subuh dan kembali tidur. Tidur-tiduran lebih tepatnya karena semalaman aku tidak bisa tidur sebenarnya dan hanya bisa menangis. Menangisi diri yang dikhianati oleh suami yang selama ini tak pernah sedetik pun aku tak percayai.

Hari itu suamiku tidak berangkat mengajar. Ia hanya kudengar mengaji sepulang dari masjid sampai matahari meninggi. Ia sepertinya memilih untuk tetap di rumah menunggu perempuan yang datang kemarin karena saya bilang ke permpuan tersebut untuk datang hari ini. Sekitar jam 10 pagi, sang perempuan datang. Ku tahu karena aku mendengar samar-samar dari anak ku yang membukakan pintu dan dari pembicaraan mereka. Aku tak berminat keluar kamar. Aku tentu malu menerima tamu dengan kondisi mata masih sembab karena tak berhenti menangis.

Aku pun tak mau memperhatikan pembicaraan mereka yang samar-samar sampai ke kamarku. Aku sudah terlalu sakit dan tak mau menambah rasa sakitku. Sekitar 10 menit berlalu tiba-tiba suamiku datang menghampiri dan mengelus kepalaku. Dengan lembut ia berbicara di telingaku dan menjelaskan yang sebenarnya. Ternyata, perempuan itu salah alamat. Perempuan itu adalah istri muda tetangga di kontrakan belakang rumahkku. Orang tersebut baru pindah jadi kami belum mengenalnya. Kebetulan namanya sama dengan nama suamiku.

Suamiku kemudian memintaku untuk keluar menemui si perempuan. Walau hati masih sangat dongkol, aku akhirnya beranjak juga menuju ruang tamu. Lalu tanpa diduga si perempuan langsung menghambur memelukku sambil menangis. “Maafkan aku, Bu haji. Ternyata aku salah alamat. Suamiku bukan suami bu Haji, hanya namanya saja yang sama,” ucap perempuan itu sambil terisak.

Aku kaget. Akhirnya justru tangisku makin deras. Kali ini bukan tangis sedih tapi tangis bahagis karena ternyata suamiku tak mengkhianatiku. Dengan terbata-bata aku berkata “tidak apa-apa bu.”

Suamiku kemudian mengantarkan si perempuan ke rumah suaminya yang tak jauh dari rumah. Sepulang dari mengantar si perempuan. Aku memeluk suamiku sambil menangis. Aku menangis sejadi-jadinya sambil memohon maaf karena telah berprasangka buruk kepadanya. “Yang, maafkan aku yang telah curiga sama abang dan berfikir abang mengkhianatiku”.

Suamiku hanya mengelus-elus kepalaku dan berkata “ tidak apa-apa, Yang. Abang tidak apa-apa. gak usah difikirkan, abang tidak apa-apa. Yayang tidak usah ketus-ketus lagi ya sama Abang. ntar si kecil jadi ketus deh”. Ia kemudian mengelus perutku sudah makin membesar. “Terima Kasih, Yang”, ucapku sambil tersenyum. Dan kulihat suamiku tersenyum manis. Manis sekali.

Sejak itu aku belajar untuk makin percaya dengan suamiku. Karena memang selama bersamanya tak pernah seingatku ia berbohong kepadaku. Dan tak mudah percaya kata orang tanpa ku dengar langsung dari suamiku. Kejadian memalukan dan memilukan itu akhirnya makin menunjukkan betapa besar cinta suami kepada ku.

One Comment

  • Fauzi

    Sayang endingnya kurang greget,kirain sang istri mau langsung menangis sampe guling2 gitu n lapor langsung ke KUA..tp ok banget lah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *