Satuan Narkoba (Satnarkoba) Polresta Bogor Kota mengungkap kasus pidana narkoba dan obat terlarang di Kota Hujan, periode Januari-Februari 2018. Hasilnya, 33 tersangka dari 27 kasus terjaring dari berbagai operasi narkoba, dengan barang bukti berupa narkotika jenis sabu, ganja, ganja sintetis gorilas, psikotropika dan obat-obat keras. Jika ditotal, narkoba yang disita bernilai sekitar Rp184,7 juta.

Kepala Satuan Narkona Polresta Bogor Kota Kompol Agah Sonjaya memaparkan, narkotika dan obat-obatan yang berhasil diamankan, merupakan hasil pengembangan dari razia-razia yang dilakukan di berbagai titik, seperti balap liar dan tempat kumpul anak-anak muda. “Di wilayah Kota Bogor ini cukup merata. Ini merupakan hasil dari pengembangan patroli skala besar tiap malam minggu, dimana sering kami dapati anak-anak muda, balap liar, banyak kami amankan mereka dalam keadaan mabuk. Ini lalu kembangkan, darimana mereka dapat barang-barang seperti itu,” katanya saat ditemui Metropolitan, di Mako Polresta Kedunghalang, kemarin.

Agah menambahkan, dari karakter jenis narkotika dan obat-obat yang diekspos, bukan merupakan barang yang dikonsumsi di tempat publik seperti Tempat Hiburan Malam (THM). “Sabu, psikotropika, gorila itu karakternya, kalau kata anak sekarang itu dia pengennya mager, males gerak, sehingga justru memilih tempat-tempat yang cenderung privat, bukan tempat ramai seperti THM, contoh diam di tempat sepi. Ngumpul sama temannya, di kos-kosan. Sambil hisap gorila, ada yang pake sabu di tempat kos, seperti itu,” paparnya.

Dari narkoba yang berhasil diamankan, lanjut Agah, tidak ada jenis baru. Namun Agah juga mengingatkan, agar tidak meremehkan efek dari obat-obat tersebut. “Jangan meremahkan obat-obat ini, ketika ini digunakan, dicampur minuman keras, efeknya langsung brutal, perkelahian, balapan liar, ya berhubungan langsung.” ucapnya.

Sebagian penjual obat-obat ini, sambung Agah merasa tidak melanggar hukum. Menurut mereka ini bukan narkotik. “Padahal obat berbahaya diatur dalam UU Kesehatan Nomor 36 2009, ancaman hukumannya sepuluh tahun,” terangnya.

Sementara Kapolresta Bogor Kota Kombespol Ulung Sampurna Jaya menegaskan, pihaknya akan terus melakukan razia skala besar di berbagai titik anak muda berkumpul. Sebab, kata Ulung, dari situ bisa terungkap banyak kasus. “Terbukti, memang tidak ada pelajar yang kedapatan dengan barang bukti, sehingga tidak bisa diungkap. Tapi, banyak yang kami jaring, mabuk miras dan obat, efeknya banyak, perkelahian, balap liar. Nah, ini dikembangkan, jadi kami bsia ungkap para pengedar narkoba in,” tuntnasnya.

(ryn/c/els)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here