Link Banner

Dengan pendapatan yang semakin meningkat, tiap malam kami hura-hura di tempat-tempat hiburan malam di Surabaya. Sampai suatu hari, Mas Bandi menerima tawaran seorang big bos narkoba untuk menjadi pengedar dengan sistem setor sekali sebulan.awalnya berjalan mulus namun suatu uang setoran tak mencukupi. Terpaksa kami menyusun rencana untuk ‘’turun ke jalan’’. Mencopet!

Namun, setinggi-tingginya tupai melompat, akhirnya terjatuh juga. Pepatah itu sangat tepat untuk melukiskan nahas yang menimpa Mas Bandi. lelaki yang sudah kuanggap seperti dewa ini tertangkap fihak berwajib saat sedang beraksi. Aku yang saat itu tidak jauh dari tempat itu, hanya terduduk lemas tanpa daya. Aku yakin Mas Bandi bakal dihukum berat, karena saat itu ia membawa beberapa butir ekstasi yang hendak di berikan kepada temannya.

Saat menjadi tahanan polisi, aku masih sering mengunjungi Mas Bandi, mengaku sebagai adiknya. Namun dalam kunjunganku yang kesekian, aku tak lagi bisa menjumpainya di sana. Menurut petugas, Mas Bandi sudah dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan dengan vonis 13 tahun penjara. Ake lemas sekaligus merasa berdosa. Sebab, sewaktu masih dalam tahanan polisi, ia pernah memintaku menghubungi bosnya, minta uang dalam jumblah yang sangat besar. Pesan itu tak kutunaikan, karena aku trauma melihatnya digiring polisi saat penangkapan.

Aku sendirian lagi, tanpa mas bandi yang selama ini menemani hari-hariku. Saat itu aku sempat memutuskan hendak pulang dan kembali ke orang tua. Namun rencana tersebut tak pernah kesampaian. Hari itu saat itu aku nongkrong di terminal seorang wanita paruh baya itu mengajakku kenalan dan berbagi cerita. Ujung-ujungnya, mami W –sebut saja begiitu-menawariku bekerja di tempatnya. Yup, ia seorang mucikari di perkampungan Dolly. Tanpa pikir panjang, ku terima ajakannya.

Resmilah aku menjadi anak buah mami W. Aku di beri fasilitas memadai dan dipinjami uang untuk membeli berbagai kebutuhan terutama baju’’dinas’’. Entah kenapa tidak juga aku menyadari bahwa yang ku lakukan itu salah dan sesat. Kupikir, bekerja sebagai PSK pun butuh pengorbanan dan perjuangan serta memeras keringat demi untuk mendapatkan uang.

Setelah kerja beberapa bulan, aku bisa melunasi hutangku pada mami. Pendapatan berikutnya aku kirimkan ke kampung halaman dan sebagian aku tabung sendiri. Kepada orang tua yang belakangan kudengar sudah resmi bercerai, aku mengaku bekerja di restoran..

Link Banner

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here