News, Sport and Lifestyle

MAU DIKLARIFIKASI MUI, USTADZ JAWAS MANGKIR

METROPOLITAN – Tim kuasa hukum Masjid Imam Ahmad bin Hambal berencana akan menghadirkan Ustad Yazid bin Abdul Qadir Jawas, sebagai narasumber dalam dialog yang difasilitasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor, kemarin. Namun, pertemuan itu urung terlaksana karena yang bersangkutan mendadak menyatakan tidak bisa hadir alias mangkir.

Hal itu terkait dengan proses hukum yang sedang berjalan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung soal pembangunan masjid di Kelurahan Tanahbaru Kecamatan Bogor Utara, yang ditolak warga sekitar. PTUN meminta MUI Kota Bogor untuk memfasilitasi dialog antara pihak masjid Imam Ahmad bin Hambali, dengan warga di sekitar masjid.

Seperti diutarakan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Kota Bogor H. Khotimi Bahri, dialog kemarin dianggap penting, karena hasil pertemuan tersebut akan dibawa ke persidangan di Pengadilan Tinggi U Negara (PTUN) Bandung, hari ini. Namun, Ustad Jawas berhalangan hadir dan mengirimkan surat permohonan maaf ke MUI Kota Bogor.

“Besok (hari ini, red) tim Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dipanggil ke PTUN Bandung, pemanggilan saksi ahli dari FKUB dan Kemeneag, sekaligus melaporkan dialog hari ini (kemarin, red). Tapi ya karena tidak jadi, ya tidak ada hasil yang bisa dilaporkan,” katanya saat ditemui di kantor MUI Kota Bogor, kemarin.

Khotimi menjelaskan, menanggapi surat dari Ustad Jawas tersebut, ada tiga hal yang dianggap melenceng. Pertama, ketidakkonsistenan pihak Ustad Jawas soal jadwal dialog musyawarah.

“Pada surat tercantum tanggal 13 Februari, tapi kenapa ada tulisan nanti dikonfirmasi lagi? Padahal dialog hari ini (kemarin, red) saja awalnya sudah mereka iyakan, tapi sekarang bilang bentrok jadwal,” ungkapnya.

Dan kedua, sambung Khotimi, Ustad Jawas malah meminta pembahasan yang melenceng dari tujuan awal dialog ini yakni, akar dari apa yang meresahkan warga.

“Mereka meminta kesaksian dari MUI, ibnu hambal itu wahabi, dan wahabi dinyatakan keluar jalur. Itu kan dilluar keputusan MUI dan itu sudah disepakati ulama sedunia dalam Konfrensi Ceko tahun kemarin. Nah kenapa itu yang dibahas,” cetusnya.

Kemudian, pihak Ustad Jawas juga kini meminta pertemuan difasilitasi wali kota, sedangkan sebelumnya sudah sepakat MUI lah yang menengahinya.

“Berarti mulai dari nol. Ya dianggap tidak kooperatif lah, sekarang ya kami serahkan sepenuhnya ke pengadilan, karena kami sudah berupaya memfasilitasi, sesuai permintaan pengadilan,” ujarnya

Sementara dalam surat yang dilayangkan ke MUI Kota Bogor per 7 Februari lalu, Ustad Jawas mengatakan tidak bisa menghadiri dialog karena berbenturan jadwal dengan kegiatan kajian di tempat lain.

“Mohon maaf tidak bisa memenuhi panggilan dari MUI Kota Bogor, karena bersamaan jadwalnya dengan jadwal kajian, mohon bisa dijadwalkan kembali pada Selasa, 13 Februari mendatang, dan akan kami konfirmasi kembali, untuk berdialog dan menyampaikan klarifikasi,” tuntasnya.

(ryn/c/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *