Tampung Aspirasi Kaum Minoritas, Edgar Berharap Bermanfaat

by -1 views

METROPOLITAN – Calon Wali Kota Bogor, Edgar Suratman, kemarin melakukan kampanye di Kampung Kebonpedes, RW 10, Kelurahan Kebonpedes, Kecamatan Tanah Sareal. Kampanye dikemas melalui kegiatan silaturahmi bersama warga utnuk mengenalkan pasangan calon nomor urut dua, Edgar Suratman dan Sefwelly Gynanjar Djoyodiningrat.

Pertama-tama Edgar bertemu dengan warga yang membutuhkan bantuan untuk rumah tidak layak huni (RTLH). Lalu dilanjutkan peninjauan pintu air Curug Lima dan kegiatan diakhiri dengan menemui tokoh masyarakat setempat. “Kami silaturami dan melakukan kunjungan dadakan kepada masyarakat, terutama di daerah pinggiran yang memerlukan perhatian dari pemerintah,” kata Edgar.

Menurutnya, ada banyak keluhan dari masyarakat yang disampaikan kepadanya. Baik itu masalah sarana transportasi penghubung seperti jembatan, tempat peribadatan untuk majelis taklim dan madrasah. Sehingga, keluhan dan keinginan masyarakat tersebut tentunya harus lebih diperhatikan dan menjadi prioritas. Baik disikapi untuk jangka pendek dan jangka panjang. “Semua aspirasi harus ditampung dan harus direspon semua pihak tanpa terkecuali, baik pemerintah, masyarakat setempat terlebih saya sebagai calon walikota Bogor. Insya Allah, jika amanah, dioptimalkan kewenanganya untuk memberikan manfaat,” ucap dia.

Terkait dengan sejumlah permasalahan seperti RTLH ataupun jembatan, ia berharap usulan tersebut lebih mendapatkan prioritas pada tahapan Musrembang. Sebab, masyarakat yang seperti itu memang kebutuhanya tidak mengada-ngada dan menjadi tugas pemerintah sebagai pengayom, melayani dan melindungi masyarakat untuk merasa tidak dalam keadaan bahaya, aman dan nyaman. “Jika dibiarkan semua salah! saya yakin biayanya tidak terlalu besar. Jika masih banyak resiko, artinya belum maksimal pemerintah,” imbuhnya.

Edgar juga menambahkan, nantinya program-program yang akan digagas paslon dengan slogan ESA tersebut tak terlepas dari urusan dasar pelayanan, pendidikan, kesehatan dan tingkat kemampuan untuk daya beli. “Jangan sampai ada lagi warga yang tidur, gentingnya bocor dan tidak pernah ada yang memperbaiki,” tutupnya.

(rez/b/ram)