METROPOLITAN – Di tengah persoalan macet yang tak ada ujung, tingkat pertumbuhan kendaraan terus meningkat. Bahkan di Kabupaten Bogor, jumlah kendaraan baru mencapai belasan ribu setiap bulan. Paling sedikit ada 400 mobil dan motor yang dibeli warga tiap harinya.

Mudahnya kredit kendaraan berimbas pada membengkaknya jumlah kendaraan di Kabupaten Bogor. Berdasarkan data Polres Bogor, rata-rata dalam sebulan ada 12 ribu kendaraan baru yang dibeli warga. Artinya, warga Bogor membeli 400 mobil dan motor setiap harinya. Tak heran bila jalanan makin padat merayap, terutama saat libur akhir pekan.

Menurut Kanit Regiden Polres Bogor Iptu Dicky Pranata, pertumbuhan ini paling banyak di wilayah Cibinong dan Cigudeg. “Kalau dilihat datanya, dalam satu bulan untuk motor dan mobil baru mencapai 12 ribu,” kata Dicky.

Sayangnya, pertumbuhan itu sulit dikendalikan karena bukan kewenangan polisi. Ia menilai pertumbuhan kendaraan yang cukup tinggi berdampak pada kemacetan di beberapa wilayah. Terutama di wilayah Cibinong dan Cigudeg yang memiliki angka pertumbuhan kendaraannya paling tinggi dibanding kecamatan lainnya di Kabupaten Bogor.

Selain itu, faktor pertumbuhan kendaraan yang tidak sebanding dengan pertumbuhan jalan di Kabupaten Bogor pun disinyalir menjadi salah satu faktor pemicu kemacetan. “Kita akui sekarang banyak kendaraan murah yang banyak diminati, tapi kita tidak bisa melarang atau membatasi karena itu hak masyarakat dan bukan kewenangan kita,” jelasnya.

Sementara itu, lanjutnya, untuk mutasi kendaraan yang ditangani Samsat Polres Bogor sendiri terbilang cukup stabil.

Dalam satu minggu, mutasi kendaraan yang ditangani bisa mencapai ratusan kendaraan. “Kalau yang masuk itu bisa sekitar 200 kendaraan yang masuk, sedangkan yang keluar seratus kendaraan yang terdiri dari motor dan mobil,” katanya.

Persoalan ini sebenarnya hampir terjadi di seluruh Indonesia. Serbuan besar-besaran kendaraan pribadi di sudut kota jadi pemandangan setiap harinya. Khususnya saat libur akhir pekan. Padahal, kapasitas jalan semakin sempit.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, dalam lima tahun terakhir jumlah kendaraan di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan. Ini didominasi sepeda motor dan mobil pribadi. (lihat grafis)

Menurut Pakar Transportasi Djoko Susilo, membeludaknya kepemilikan kendaraan menjadi indikasi soal buruknya sistem transportasi massal di Indonesia. Ini juga terjadi di wilayah Bogor.

Publik transportasinya buruk, sedangkan ada penawaran kendaraan dengan harga murah dan mudah. Jadi, masyarakat pilih untuk membeli kendaraan pribadi,” ujar Djoko.

Ia pun membandingkan pada kondisi sepuluh tahun sebelumnya di mana orang yang ingin membeli kendaraan harus membayarnya secara tunai. “Sekarang kasarnya orang melarat yang tinggal di kolong jembatan saja bisa punya motor kan,” sindirnya.

Menurutnya, sistem transportasi publik perlu menjadi perhatian setiap kepala daerah. Ini penting agar adanya sistem transportasi terpadu yang memudahkan masyarakat mengaksesnya.

Seperti angkutan umum dari rumah menuju pusat belanja, kantor dan pusat lainnya, ini harusnya terintegrasi. Calon kepala daerah harus memikirkan ke arah sana,” pintanya.

(ads/c/feb/run)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here