News, Sport and Lifestyle

Lawan Hoax dengan Fakta

METROPOLITAN – Maraknya kasus ujaran kebencian dan berita hoax melalui media sosial, menjadi tantangan bagi generasi di era saat ini. Kalangan pers yang menjadi elemen penting tentang penyebaran informasi turut andil memerangi hoax. Dimotori oleh redaksi Berita Utama, mengajak 40 mahasiswa dari tiga universitas yakni Pakuan, Djuanda dan IPB supaya mengenal lebih dekat tentang Media Cyber. Pengetahuan akan hal tersebut bisa melawan penyebaran hoax di tengah masyarakat.

Seminar anti Hoak yang digelar di Hotel M-One, Kecamatan Sukaraja, menghadirkan sederet narasumber dari kalangan media online seperti Ketua Serikat Media Cyber Indonesia Piyarso Hadi dan Endang Gunawan, yang kiprahnya sudah banyak makan asam garan di dunia cyber.

Pimred Berita Utama, Suhairil Anwar mengatakan, saat ini tidak bisa dipungkiri lagi maraknya kehadiran media sosial isinya berleliweran berita hoak. Sehingga sangat pentinganya memberikan pemahaman kepada masyarakat terutama mahasiswa melalui seminar sebagai pengetahuan tentang bagaimana cara menyikapi dan melawan berita-berita bohong, atau yang biasa disebut hoax. Akan sangat berbahaya jika mahasiswa khususnya mereka yang memiliki basic jurnalistik tidak bijak menangani berita hoak. Selain mahasiswa sasaran empuk lainya yang menjadi target berita hoak adalah pemerintahan.

“Ketika menerima berita, masyarakar harus mencari informasi yang akurat. Jangan menerima berita langsung di share, namun harus dipertanyakan terlebih dahulu kebenarannya jangan sampai dijerat undang-undang ITE, ” ujarnya

Anwar menambahkan, Media sosial semestinya dimanfaatkan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan menyebarkan konten-konten positif. Sayangnya, beberapa pihak memanfaatkannya untuk menyebarkan informasi yang mengandung konten negatif yang menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Jika hal tersebut dibiarkan, dikhawatirkan akan menjadi virus yang merusak pemahaman pembaca. Menyadari hal tersebut, sangat pentinga mengajak masyarakat secara proaktif supaya lebih cerdas menggunakan media sosial.

“Tipsnya menghindari berita hoax, masyarakat harus mengkaji dulu berita yang disampaikan itu benar atau tidak. Sehingga masyarakat tidak tersesat. Jangan asal menshare, akhirnya mereka sendiri yang terjerat oleh hukum,” bebernya.

Sementara itu, Narasumber Endang Gunawan menjelaskan, tujuan utama di berikan pelatihan adalah membentuk generasi muda Indonesia agar mempunyai kecerdesaan literasi digital yang tinggi. Dengan cara itulah anak-anak muda tidak gampang dipengaruhi oleh berita-berita hoaks yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Ia menjelaskan, didalam jurnalistik ada mekanisme dalam penyajian berita. Diawali dengan penyerapan informasi olah reporter yang melakukan cek dan ricek terhadap sebuah informasi sebelum ditayangkan kepada publik. Proses panjang penyajian sebuah berita mulai dari pengumpulanan data di lapangan verifikasi data, narasumber, penyuntingan hingga publikasi semuanya sudah diatur dalam kode etik jurnalistik.

“Ruang lingkup dasar jurnalistik itu harus memiliki wawasan, keahlian, keterampilan jurnalistik, etika juga sikap, selain itu Wartawan harus selalu siap 24 jam,” tukasnya.

(ads/dik/b)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *