Kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur lagi-lagi terjadi di Kabupaten Bogor. Tiga siswi SD jadi korban predator seks di Ciomas. Dengan bujuk rayu pelaku, ketiga korban yang masih polos jadi sasaran pemuas nafsu bejat pemuda yang tak lain tetangganya sendiri.

MRH (19) pemuda yang sehari-hari membuka warung di sebuah kampung di Ciomas resmi jadi tahanan Polres Bogor. Lelaki yang kerap mendekati anak-anak kecil itu rupanya tak cuma berjualan tapi juga sering mengincar anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya untuk memuaskan hasrat seksualnya.

Terungkapnya kasus ini berawal dari pengakuan korban kepada orang tuanya. Sebut saja Citra (nama samaran). Bocah enam tahun itu mengaku ketakutan saat diminta orang tuanya pergi ke warung pelaku. Saat itu pula korban menceritakan aksi bejat MRH hingga orang tuanya membuat laporan. “Atas laporan orang tua korban, akhirnya polisi melakukan tindak lanjut dan menahan pelaku,” kata Kapolres Bogor AKBP Andi Moch Dicky.

Tak cuma Citra, masih ada dua bocah lainnya yang jadi korban MRH, sang predator seks. Mereka masih duduk di bangku SD dan kini masih dalam keadaan trauma.

“Korbannya ada tiga. Dua orang usianya enam tahun, satu lagi sebelas tahun,” beber Dicky.

Dari hasil pemeriksaan, terungkap bahwa selama ini pelaku telah melancarkan aksinya selama tiga bulan di warungnya. Pelaku membujuk korban dengan iming-iming jajanan gratis di warungnya. “Aksi ini sudah dari Januari sampai Maret. Dilakukannya tidak sekaligus, tapi di waktu berbeda,” urainya.

Berdasarkan pengakuan pelaku, lanjut Dicky, pelaku melampiaskan nafsunya dengan menciumi bibir korban. Bahkan, pelaku juga menggerayangi tubuh korban sembari memaksa. “Motif pelaku dengan cara diberi iming-iming makanan atau jajanan saat berada di warung lantas dilakukan tindakan pencabulan. Perilaku seks pelaku yang menyimpang biasanya disebut pedofilia,” jelasnya.

Barang bukti yang disita polisi yaitu setelan baju pramuka dan satu buah celana anak warna oranye. “Ketiga korban saat ini berada di P2TP2A untuk dilindungi dan diberi rehabilitasi. Berdasarkan penyelidikan, kemungkinan korban akan bertambah dan sedang diselidiki lebih lanjut. Sedangkan pelaku dijerat Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun penjara,” ujarnya.

Kasus pencabulan terhadap bocah di bawah umur ini bukan kali pertama. Di Bogor sendiri sudah ada delapan kejadian serupa, hingga pihak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang diwakili Wakil Ketua M Faisal ikut bersuara. Faisal menyebut bahwa kasus pedofilia sudah masuk kasus luar biasa. “Kalau bicara bagaimana kita (KPAI, red) memandang kasus pedofilia, kita menganggap ini kasus extra-ordinary, sudah darurat. Karena ranahnya tidak hanya terjadi di dunia nyata atau lapangan, tetapi juga di media sosial,” ujar Faisal.

Pelecehan terhadap anak-anak sendiri disebut Faisal harus dilihat dari kasus dan tindakan yang dilakukan pelaku. Jika perilaku ini dilakukan berulang, maka sudah bisa dipastikan pelaku merupakan seorang pedofilia. Namun jika pelaku hanya melakukan tindakan tersebut sekali, maka belum tentu dia pedofilia. Harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut apa yang menjadi tendensi, penyebab dan indikasi perilaku pelaku. “Meskipun hanya satu kali tapi kalau setelah diperiksa ada kecenderungan dilakukan kepada anak-anak di bawah umur, maka ada potensi pedofil,” lanjutnya.

Berdasarkan pemeriksaan kepolisian dan pengakuan dari pelaku, baru bisa dipastikan masuk kategori pedofilia atau bukan. Di Bogor sendiri, Faisal mengatakan bahwa kasus di 2017 berdasarkan koordinasi dengan pihak kepolisian hingga Desember, sebanyak tujuh kasus pedofilia terjadi. Namun, data ini perlu dipastikan lagi dengan melakukan penyamaan data dengan KPAI, polisi dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

Dirinya menganggap tiap laporan yang didapat pasti berbeda. Ada yang hanya melapor kepada satu pihak, tetapi ada juga yang ke semua pihak. Artinya harus disamakan data antarlembaga agar mendapat satu angka pasti. Meskipun hingga Desember 2017 kasus yang didata di kepolisian hanya ada tujuh, Faisal tidak memungkiri adanya kekhawatiran lain. Ia khawatir ini hanyalah fenomena gunung es, di mana sebetulnya masih banyak kasus pedofilia namun hanya sedikit yang melaporkan. “Terkadang permasalahan yang terjadi adalah tidak semua korban atau keluarga mau melaporkan. Karena takut kejadian ini dianggap sebagai aib dan membuat malu,” ujar Faisal.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihak KPAI Bogor menyatakan telah melakukan sosialisasi. Sosialisasi dilakukan di setiap wilayah dan kelurahan melalui PKK yang ada. KPAI menyediakan materi khusus mengenai kasus pedofilia, di antaranya apa yang dimaksud pedofilia, bagaimana ciri-cirinya dan apa yang harus dilakukan korban. Ia mengaku hal ini dilakukan berkelanjutan di setiap acara yang melibatkan masyarakat luas, khususnya ibu-ibu. Sosialisasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran untuk melapor dan memberi pemahaman bahwa hal-hal seperti itu tidak boleh lagi terjadi.

(ads/c/rep/feb/run)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here