METROPOLITAN – Kasus kekerasan atau perbuatan asusila terhadap anak belakangan kian memprihatinkan. Pada 2017, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bogor sudah memberikan pendampingan kepada 50 kasus anak dari mulai korban hingga pelaku. Termasuk menyiapkan petugas pekerja sosial anak guna mendampingi mereka ketika proses hukum berjalan.

Kepala Bidang Rehabilitasi Dinsos Kabupaten Bogor Dian Mulyadiansyah mengaku, kalau dilihat kejadian yang ada, kasus yang menimpa anak cukup mengkhawatirkan. Secara data yang terungkap kasus anak di Kabupaten Bogor masih relatif rendah. Sepanjang 2017 Dinsos sudah mendampingi 50 kasus dari mulai korban ataupun pelaku. “Ini merupakan peringatan kepada kita agar lebih menguatkan kembali bimbingan dan pengawasan terhadap anak,” ujar

Ia menjelaskan, saat ini kekerasan terhadap anak rata-rata kebanyakan dilakukan orang terdekat. Upaya Dinsos dalam penangan kasus -kasus anak yakni menyiapkan petugas pekerja sosial anak guna mendampingi mereka ketika proses hukum berjalan. Termasuk melakukan home visit terutama kepada keluarga korban. Sebagai contoh Dinsos melakukan home visit ke rumah korban yang ada di Rumpin untuk mengassesment kondisi si korban agar dapat dicarikan jalan keluar dari permasalahannya. “Agar si korban dapat tumbuh kembang seperti anak-anak lainnya, terutama faktor psikologis dan pendidikannya jangan sampai berhenti,”bebernya.

Lebih lanjut, kata Dian, kalau dilihat kejadian yang ada kasus seperti ini, pengaruh media sosial yang tanpa pendampingan membawa dampak terhadap perkembangan jiwa dan perilaku anak itu sendiri. Seiringinnya zaman, keberadaan media sosial sangat berpengaruh terhadap anak. Sehingga peran orang tua sangat penting agar hal tersebut tidak berdampak negatif terhadap perkembangan anak. “Semoga hal tersebut tidak terulang lagi di Kabupaten Bogor. Oleh karena itu diharapkan kepada para orang tua bersama- sama mengawasi anaknya , agar tidak menjadi korban atau melakukan hal hal yang tidak diharapkan ,”tukasnya.

Sementara itu, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Euis Hidayat mengungkapkan, faktor kasus kekerasan dialami perempuan dan anak itu tidak hanya disebabkan karena faktor keluarga. Tapi, lingkungan masyarakat juga belum sepenuhnya memberikan ruang bagi perempuan untuk tampil dalam berbicara guna menentukan keputusan dalam menghadapi kasus kekerasan yang menimpanya sendiri. Hal yang paling mendasar ketika menitipkan anak, tidak membiarkan anaknya bermain tanpa ada pengawasan. “Kasus kekerasan terhadap anak ini menjadi peringatan bagi Pemkab Bogor untuk lebih serius pada upaya pencegahan hingga penanganan secara lebih baik di masa mendatang,” harapnya.

(ads/b/els)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here