Setelah mengatakan kalau aku sudah tidak mencintainya lagi dan aku mencintai laki-laki lain. Sontak saat itu juga suamiku terdiam, lalu tak sanggup membendung air matanya. Terlihat wajah sendunya sangat berat untuk mengikhlaskan aku. Karena aku tau memang dia sangat mencintaiku.

Dengan suara yang berat.. “Baiklah Bunda, jika memang itu yang Bunda inginkan. Papa ikhlas melepaskan Bunda, semoga Bunda bahagia dengannya dan tidak pernah menyesal akan keputusan ini. Maaf kalau Papa tidak bisa membahagiakan Bunda selama ini hingga kejadian ini bisa terjadi.”

Itu lah kata-kata perpisahan yang sempat terucap dari suamiku. Aku kegirangan, kemudian aku menelpon Andi dan menyampaikan kabar gembira ini.

Tak kusangka, jawaban Andi ternyata diluar perkiraanku. Dia memarahiku. Mengapa sampai harus diceritakan ke suami dan meminta cerai. Dia mengatakan kalau selama ini dia hanya ingin bersenang-senang saja denganku, hanya ingin menikmati tubuhku, bukan memilikiku.

Tubuhku terasa lemas, jantungku seperti berhenti berdetak, semua terasa gelap. Aku merasakan kehilangan segalanya. Anak-anak dan suami yang sangat mencintaiku. Aku hancurkan segalanya yang telah kami bangun selama ini.

Ah seandainya bukan kenikmatan dunia yang aku cari, bukan harta yang banyak, tentu hal ini tidak sampai terjadi. Aku merasa sangat hina, sangat rendah. Aku telah menginjak-injak harga diriku sendiri. Masih pantaskah aku dimaafkan oleh suamiku?

Sumber: kisahnyata.org

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here