METROPOLITAN – Aksi teror yang menimpa Kota Surabaya beberapa waktu lalu, mengusik nurani beberapa elemen masyarakat. Pemuda Lintas Iman Kota Bogor yang terdiri dari Gerakan Pemuda Ansor Kota Bogor, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kota Bogor, Pemuda Muhammadiyah Kota Bogor, Pemuda Katolik Kota Bogor, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kota Bogor, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Bogor, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Bogor, Gerakan Mahasiswa Nasionai Indonesia (GMNI) Bogor, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Bogor, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Bogor dan Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) mengambil sikap dengan adanya kejadian tersebut.

Perwakilan Pemuda Lintas Iman Kota Bogor Robertus Gatot Arianto mengatakan, pernyataan sikap ini buah dari terusiknya kehidupan masyarakat akibat teror dan kekerasan yang merenggut banyak nyawa. Pihaknya ingin menyampaikan kepada masyarakat, khususnya Kota Bogor, hubungan antarumat beragama kondusif dan tidak terganggu teror tersebut. Selain itu, dukacita disematkan kepada umat Kristiani, khususnya kepada keluarga korban bom gereja di Surabaya. “Kami juga mengecam tindakan teror dan kekerasan atas nama apapun yang dilakukan pihak -pihak tidak bertanggung jawab, untuk memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. Agama mengajarkan kemanusiaan, damai dan cinta kasih. Tindakan teror dan kekerasan merupakan tindakan yang melawan ajaran agama dan bertentangan dengan prinsip kemanusiaan,” katanya saat ditemui Metropolitan, di Jalan Pemuda, Kecamatan Tanahsareal, Kota Bogor.

Pemuda Lintas Agama Kota Bogor juga mendesak pemerintah dan aparat keamanan untuk segera mengusut tuntas motif, pola dan gerakan penyebab terjadinya penyerangan di Mako Brimob, Kelapa Dua Depok serta pengeboman terhadap beberapa gereja di Surabaya. “Kami meminta, sekaligus mendukung upaya pemerintah untuk menangani kasus ini. Negara wajib hadir untuk menjamin keamanan hidup setiap warganya,” ucapnya.

Pihaknya ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu, menahan diri, tidak terprovokasi, menggalang solidaritas kemanusiaan dan menolak segala bentuk kekerasan. Perlu juga bijak dalam menggunakan media sosial, dengan menebar berita damai, tidak meyebar foto dan video pelaku atau korban bom bunuh diri. “Kami siap bekerjasama dengan pemerintah dan seluruh kekuatan bangsa, untuk mencegah hal atau perbuatan yang mengancam kesatuan dan persatuan bangsa. Kami juga siap menjadi garda terdepan melawan segala ancaman kekerasan dan terorisme,” tuntasnya.

(ryn/b/els)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here