News, Sport and Lifestyle

Tutup THM Selamanya

Kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menutup sementara Tempat Hiburan Malam (THM) selama Ramadan mendapat kritikan. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Muslim Bogor (APMB) mendesak 30 THM tersebut ditutup selamanya alias permanen.

Dalam aksinya, para mahasiswa mendesak Pemkot Bogor untuk melakukan langkah konkret dalam mengaplikasikan Surat Keputusan (SK) Wali Kota nomor 300.45-127 tahun 2018 tentang Penutupan Sementara Tempat-Tempat Hiburan, Rumah Biliar dan Tempat Sejenisnya Selama Bulan Ramadan. Selain itu, ketegasan dalam menumpas peredaran minuman keras di Kota Hujan.

Selain itu, mereka pun melakukan aksi teatrikal sebagai bentuk kekecewaan terhadap kebijakan pemkot bogor. Dalam satu adegan, mahasiswa menunjukan bagaimana THM yang dekat dengan peredaran dan konsumsi miuman keras, berdampak pada tindak kejahatan serta kriminal, dan merusak moral bangsa. “Pemkot Bogor jangan hanya menutup THM saat menjelang, atau saat bulan Ramadan saja, tetapi sesudah bulan Ramadan pun tempat seperti itu memang harus ditutup. Sebab, sangat berdampak buruk bagi para pemuda, terutama pemuda muslim, Maka, APMB pun dengan tegas meminta Pemkot Bogor untuk menutup permanen THM se-Kota Bogor,” kata Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Iqbal Firdausa kepada awak media, kemarin.

Sementara itu, penutupan sementara THM itu dimulai sejak Minggu (13/5) hingga 20 Juni mendatang alias H+3 selepas Lebaran. Satpol PP Kota Bogor sebagai penegak peraturan daerah (perda) mengaku akan memelototi para pengusaha THM agar tidak ada yang nekat membuka usahanya selama Ramadan. Kepala Satpol PP Hery Karnadi mengaku pihaknya akan melakukan monitoring secara rutin dan berkala ke 30 THM yang ada di Kota Hujan tiap harinya. Hal itu dilakukan untuk memastikan semua pelaku usaha tersebut mematuhi aturan yang diterapkan. “Bentuknya, masih persuasif. Artinya, kami ingin tahu sejauh mana para pemillik atau pengelola usaha menjalankan aturan yang diberlakukan selama Ramadan tersebut,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Ia pun memastikan akan menindak THM atau restoran dan tempat hiburan lainnya jika terbukti membuka usahanya pada bulan Ramadan. Tindakannnya mulai dari penutupan paksa tempat hiburan tersebut atau melakukan penyitaan barang atau sarana perlengkapan yang digunakan. “Sanksi yang terberat tentu penyegelan tempat usaha tersebut. Ini jika membandel berkali-kali, atau ada kejadian yang memaksa kami untuk lakukan penyegelan,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polresta Bogor Kota Kompol Hari Fajar menuturkan, selain melakukan operasi cipta kondisi rutin, selama Ramadan ini juga Polresta Bogor Kota bersama Satpol PP dan TNI akan melakukan penyisiran ke berbagai THM se-Kota Bogor. Apalagi, sudah ada peraturan yang melarang tempat hiburan untuk tidak beroperasi selama Ramadan hingga Lebaran nanti. “Kami sifatnya kan membantu. Personel akan dilibatkan dalam setiap operasi gabungan yang dilakukan nanti. Sebab, aturan ini kan dari Pemkot Bogor, yang berhak melakukan penindakan saat ada pengusaha yang membandel, buka pas puasa, ya ranahnya Satpol PP, kami hanya membantu. Kecuali, ada tindakan atau peristiwa lain yang misalnya, kriminal, baru kami tangani,” ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Kesatuan Bangsa dan Poltik (Kesbangpol) Kota Bogor Fordinan mengatakan, penghentian sementara ini dilakukan karena menjadi kebiasaan tahunan saat menghadapi bulan Ramadan seluruh THM harus menghentikan sementara aktivitas usahanya. Apalagi Ramadan tahun ini berbarengan juga dengan pilkada sehingga akan lebih krusial mengingat kerap terjadi pelanggaran-pelanggaran klasik di THM. “Jika ada yang menantang dengan masih membuka maka akan diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku,” ucapnya.

Dirinya menambahkan, jajaran muspida akan melakukan tinjauan langsung ke lapangan secara mendadak. Sehingga ia mengharapkan jangan sampai ada yang melanggar hingga harus dibuat surat teguran. “Kita harapkan pemilik THM kooperatif. Jangan sampai kita lakukan teguran jika melanggar. Sebab dengan teguran yang diberikan itu berpengaruh terhadap usaha mereka sendiri,” ujarnya.

Sementara di balik rencana penutupan paksa THM di Kota Bogor, para pemilik THM mengaku menerima dengan aturan yang dikeluarkan Pemkot Bogor meski selama satu bulan lebih ini pihaknya tidak memiliki pemasukan. “Pada dasarnya kami sih terima saja. Kami anggap itu sebagai risiko,” kata pemilik MV Karaoke, Ichwan Harun.

Menurutnya, walapun harus terpaksa merugi dan merumahkan sejumlah pegawainya, ia mengaku tidak akan melakukan upaya tertentu kepada pemkot terkait kemungkinan pengkajian toleransi batas waktu operasi tempat usahanya. “Tidak lah, Kang. Semua mah sama saja. Intinya sih kami taat aturan saja. Kalau penutupan dan sebagainya, kami anggap risiko,” ujarnya.

(ryn/c/els)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *