Setelah sekian bulan hanya chat di facebook, kami pun sepakat untuk bertemu. Kami kemudian melakukan pertemuan di salah satu restoran di bilangan Makassar bagian barat. Saat itu Salam datang seorang diri, sementara aku membawa anak bungsuku.

WALAUPUN, aku menyukainya, aku tak ingin pertemuan kami menimbulkan fitnah. Perasa­anku deg-degan saat bertemu dengan Salam. Ia pun menyapaku dengan suara berat. Ada yang lain muncul di dalam hatiku. Di tempat itu, Salam pun kembali menyatakan ketertarikannya kepadaku. Akupun menyatakan hal yang sama.

Pertemuan dengan Salam di restoran tersebut bukanlah hal yang terakhir. Sejak pertemuan itu, kami pun sering janjian untuk bertemu. Bahkan, kadang, aku bertemu dengan Salam seorang diri tanpa membawa anakku. Kebetulan di rumah aku memiliki seorang pembantu rumah tangga.

Rupanya, inilah awal dari keretakan rumah tang­gaku dengan Rudi. Aku sudah mulai jarang di ru­mah tanpa sepengetahuan Rudi. Maklum, setiap hari Rudi bekerja mulai dari pagi hingga malam.

Sementara, kadang aku selalu bertemu dengan Salam dari siang hingga sore. Salam telah mem­buka mataku tentang indahnya dunia ini. Ia menga­jak aku shopping, wisata kuliner, dan mendatangi tempat-tempat hiburan lain. Ini semua kulakukan tanpa harus mengeluarkan duit. Aku seakan-akan sudah terjebak dalam kehidupan foya-foya.

Walaupun aku sering foya-foya dengan Salam, sikapku di rumah tetap seperti biasa. Aku tetap melayani suamiku ketika ia baru pulang dari kantor, terma­suk mengurus pakaian dan makanannya saat ia akan ke kantor di pagi hari.

Setelah jalan ba­reng dengan Salam selama dua bulan, aku pun tak mampu meno­lak ajakan Salam untuk bertemu di h o t e l . Saat itu Sa lam sudah mem­booking satu kamar di salah satu hotel berbin­tang di Makas­sar. (bersam­bung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here