METROPOLITAN – Keja­dian pencopotan garis Sat­pol PP di lokasi proyek pembangunan pusat per­belanjaan modern Trans­mart, Jalan Tajur, Kelurahan Pakuan, Kecamatan Bogor Selatan, akhir pekan lalu, mengundang reaksi berbagai elemen ma­syarakat. Mengingat peru­sahaan milik taipan Chair­ul Tanjung itu hingga kini belum mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB), tetapi nekat mela­kukan kegiatan pembangunan.

”Itu harus direspons serius. Meskipun dengan dalih berkaitan  dengan rangkaian penyegelan, masyarakat kan bisa menilai, ada aturannya, pertama apapun alasannya ya tidak boleh dibuka sampai penyelidikan rampung,” kata Ketua DPD Komite Nasional Pemuda In­donesia (KNPI) Kota Bogor, Bagus Maulana Muhammad, kemarin.­

Kedua, lanjut dia, hal itu menimbulkan preseden tidak baik terhadap penegakan aturan di Kota Hujan. Insiden pencopotan segel Satpol PP line itu juga disebut memun­gkinlan unsur-unsur tindak pidana. ”Penegakan aturan itu untuk menjaga marwah pemerintah dengan instrumen regulasinya,” ucapnya.

Pihaknya meyakini tindakan penyegelan bangunan Trans­mart Tajur oleh Satpol PP punya landasan dan dasar hukum kuat serta tidak asal-asalan. ”Ketika terjadi pe­rusakan segel sebelum penyelidikan rampung, maka pemkot harus mela­porkan kejadian tersebut kepada aparat penegak hu­kum,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, penyegelan lokasi pembangu­nan Transmart di Jalan Tajur, Kelurahan Pakuan, Kecama­tan Bogor Selatan, kembali mendapat sorotan. Setelah disegel Selasa (5/6), Satpol PP Kota Bogor sengaja me­rusak segel pada Jumat (8/6).

Proyek pembangunan Trans­mart Tajur sudah disegel Satpol PP lantaran belum memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) pekan lalu. Namun pada Jumat (8/6), garis Satpol PP dan segel mendadak raib. Sejumlah pihak menilai hal ini indi­kasi lemahnya penegakan aturan di Kota Hujan.

Kepala Satpol PP Kota Bo­gor, Hery Karnadi, membe­narkan segel tersebut di­buka sementara oleh Satpol PP. Ia beralasan pencopotan segel memungkinkan untuk dibuka jika memang diang­gap perlu untk proses peri­zinan, penyelidikan atau lainnya.

Apalagi, pihak kontraktor Transmart akan mengeluar­kan alat berat yang dinilai sejalan dengan tujuan penye­gelan proyek. Makanya pem­bukaan segel bisa dilakukan. “Yang buka memang Satpol PP, karena kontraktor akan mengeluarkan alat berat. Proses pengerjaan dilakukan malam hari, karena perlu kendaraan besar. Cuma pa­ginya belum sempet terpasang lagi oleh anggota, baru si­angnya segel dipasang kem­bali,” katanya.

Sementara itu, perwakilan kontraktor proyek Transmart Tajur, Eko Susilo, mengatakan, pembukaan segel sudah di­restui Satpol PP. Dia meng­klaim sudah mendapat izin dari Satpol PP untuk mem­buka sementara, karena akan mengeluarkan alat-alat berat yang ada di lokasi.

“Bukan dirusak, tapi kami sudah ajukan izin ke Satpol PP untuk mengeluarkan alat berat. Ituh sudah ada aturan­nya dari Satpol PP, sudah memberikan izin kepada kami untuk membuka segel tersebut,” paparnya selepas rapat bersama di Balaikota, Sabtu (9/6).

Eko berdalih beberapa alat berat harus dikeluarkan melalui pintu utama, sedang­kan pintu gerbang utama disegel. Maka otomatis se­gelnya harus dibuka dulu. “Yang membuka segel itu juga dari pihak Satpol PP, dan itu surat izinnya sudah kita tembusin juga. Harusnya dari Satpol PP sudah satu pintu ke Pemkot Bogor,” ujar­nya.(ryn/b/els/py)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here