News, Sport and Lifestyle

Aku Mencintai Suamimu (2)

Ini masih tentang kisah ku, Ana. Jantungku tiba-tiba bergetar saat mendengar ucapan Topik yang mengaku jatuh cinta. Jujur aku jadi klepek-klepek dan mengangguk menerima cintanya tanpa berpikir siapa dia sebenarnya. Sejak dari itu kamipun menjalin hubungan bak seperti dua insan yang tengah di mabuk kepayang. Selam dua bulan percintaan kami berjalan mulus, namun pada suatu hari ketika aku tengah bersamanya, kulihat tiba-tiba HP dia bergetar dengan sms masuk, ternyata sms itu dari istrinya.

Saat itu aku serasa tidak percaya. Hati serasa panas dengan api cemburu yang membakar. Aku juga tidak tahu kalau ia sudah menikah. Akupun terkejut seperti mendegar petir di siang hari. Aku sedih, ternyata dia telah mempunyai istri. Saat itu, hatiku merasakan sakit yang begitu perih, hatiku hancur, sakitnya seperti tersayat-sayat.

Bagaimana aku tidak hancur, semua yang kumiliki telah kuberikan padanya. Ketika aku membaca isi pesan singkat dari istrinya itu, aku sedih, namun aku tetap harus menerima kenyataan kalau dia telah membohongiku.

Sejenak aku sadari, semua terjadi karena terlalu mencintainya, akibatnya aku telah melupakan segala impian dan tujuan hidupku untuk membahagiakan orang tuaku. Kendati apa yang sudah terjadi aku hanya bisa menangis meratapi nasib tragisnya nasib cintaku. Untuk menenangkan aku ia berkali-kali mengatakan ia begitu mencintaiku.

Ketika kutanya apakah yang mengirim sms itu istrinya, dia menjawab ya sambil menundukan kepala berkata. kepadaku ia berjanji akan menikahiku. Sembari mengatakan niatnya ia juga memelukku dengan erat katanya dengan lembut saat itu “Aku sangat mencintaimu sayang, dan aku akan menikahimu.

Padahal sampai ini, ucapannya itu tidak pernah terbukti. Walau sudah demikian, sepertinya aku gak peduli dan ambil pusing jika Topik telah mempunyai istri, sebab aku juga sangat mencintainya. Aku pede dan tetap menjalanin hubungan terlarang itu. Namun sebagai naluri seorang wanita, aku menyadarinya, aku bersalah karena telah berusaha merebut suami dan kebahagian wanita lain.

Bahkan sering kutanya dalam hati ini , “Apakah aku salah bila mencintainya?”Rasa tanya dan rasa bersalah itu, selalu berkecambuk di dalam hatiku, bahkan aku tidak bisa lagi membedakan, mana logika dan mana perasaan. Memang aku akui, kalau telah salah, aku sudah mengganggu keutuhan rumah tangga orang lain, tetapi aku juga akan tersiksa batin bila harus melupakan dan melepaskannya.

Kami saling mencintai dan aku tidak bisa kehilangannya. Waktu terus berlalu, seiring waktu, akhirnya hubungan kami terhendus dan telah diketahui oleh istrinya. Kami ketahuan ketika aku dan dia tengah bermalam di kostku (*/Feb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *