Namaku Ana. Aku memilih merantau ke Batam untuk mengejar mimpi dan cita-cita. Tapi, impian itu sirna. Semua niat cita-citaku untuk membahagiakan orang tua jadi hambar begitu saja setelah aku terlena dalam permainan cinta terlarang dengan laki-laki suami orang lain. 

Aku adalah wanita bertubuh mungil, orang bilang parasku cantik, tetapi  menurutku aku merasa biasa saja. Selain itu aku juga memiliki warna kulit putih bersih, maka dari itu tidak menutup kemungkinan, jika mata pria yang menatapku akan jatuh terpesona ketika melihatku.

Namun itulah yang paling aku sayangkan dalam hidupku, mengapa semua pria yang terpesona melihatku itu adalah para pria yang sudah menikah.

Sebenarnya kedatanganku ke Batam mulainya untuk mencari pekerjaan mapan. Tapi begitu merantau, aku malah terlena dalam jeratan cinta terlarang dengan suami orang, dan menurutku itu sudah sangat terlalu.

Mulanya aku ikut bersama paman yang sudah lama tinggal di Batam, aku sempat  tinggal dirumahnya , namun tidak lama. Di sana aku sering ditinggal sendiri, akibatnya merasa bosan dan sepi, akhirnya akupun pergi dan memutuskan mencari kost-kosan di tempat lain.

Di dalam kesendirianku saat itu, aku mencoba untuk balajar hidup mandiri. Namun di tengah aku mencoba berdikari, tidak tahu apa yang terjadi padaku, aku jatuh hati pada pria yang tidak begitu kukenal.

Saat itu diawal perkenalan, secara kebetulan, aku mengenal seorang laki-laki bernama Topik, ketika aku telah mengenalnya. Entah mengapa aku merasakan getaran hati yang begitu kuat terhadapnya. Padahal perkenalan kami belum begitu lama. Aku merasakan kalau aku telah jatuh hati padanya.

Memang kami tidak sering bersama, namun karena dia sering lewat di depan kosanku, aku jatuh hati padanya. Dia kerap kali melemparkan senyuman padaku. Bahkan aku tidak sadar, kalau aku juga membalas seyuman itu . Ketika aku sedang duduk di depan pintu kosanku, tanpa rasa segan ataupun malu, dia langsung menghampiriku, dan berkata kalau dia ingin lebih dekat denganku sembari mengucapkan kalau ia juga jatuh cinta kepadaku. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here