News, Sport and Lifestyle

Biar Hoki Ribuan Warga Bogor Ganti Nama

METROPOLITANSebuah nama menjadi identitas yang melekat pada seseorang.Nama biasanya diberikan oleh orang tua pada saat anaknya lahir. Penamaan itu pun kemudian dicatat dalam suatu akta kelahiran. Namun, tak jarang yang akhirnya mengganti nama itu ke Pengadilan karena terkait urusan hoki dan kesialan.

Salah seorang warga, Eka (30) asal Sukadami mengaku sengaja mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Kota Bogor untuk mengubah nama putrinya. Alasannya, kata Ek, nama yang sudha lebih dulu disematkan ke anaknya kurang membawa hoki.

Ini pula yang mendorong ia dan istrinya mengganti nama putrinya.

Percaya tidak percaya. Tapi ya gitu, anak suka sakit-sakitan terus. Kata keluarga namanya terlalu ‘berat’, makanya harus diubah. Supaya masa depannya lebih cerah lah,”kata Eka.

Atas saran keluarganya, ia pun mengurus proses penggantian nama ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Bogor hingga keluar rekomendasi ke Pengadilan negeri (PN) Bogor.

Pertama pengajuannya ke Disdukcapil. Nanti disuruh bayar Rp336 ribu,”kata Eka.

Bukan hanya Eka, ada ribuan warga mencakup Kota dan Kabupaten Bogor yang melakukan hal serupa. Berdasarkan data dari PN Bogor, selama tiga tahun terakhir, ada 212 warga Kota Bogor yang mengajukan permohonan ganti nama.

Beragam alasan pun mengemuka, mulai dari karena kesalahan administrasi sejak pertama lahir dan mengurus identitas, hingga alasan tidak logis seperti pengaruh nama terhadap masa depan. Hingga pertengahan tahun 2018, PN Bogor sudah mencatat ada 47 perkara pemohon penggantian nama.

Sejak 2016, total sudah ada 212 pemohon yang ingin ganti nama. Rinciannya, tahun 2016 ada sebanyak 88 pemohon, lalu pada 2017 turun menjadi 77 pemohon. Nah hingga Juni lalu, ada 47 pemohon. Ya secara rata-rata tiap tahun lebih dari 50 orang lah memasukan permohonan ganti nama,” kata Juru Bicara PN Bogor Arya Putra Negara saat ditemui Metropolitan, di kantornya, kemarin.

Arya menambahkan, PN tidak merekap secara rinci tentang alasan dan usia pemohon. Sebab, sebagian besar yang melakukan permohonan merupakan orang tua dari anak, yang namanya hendak diubah. Sebab masing-masing perkara punya substansi perkara yang berbeda-beda, dan harus dilihat per kasus satu per satu secara detil.

Karena setiap perkara ganti nama, substansi alasannya berbeda-beda, dan tidak ada klasifikasi khusus. Untuk yang diganti nama, Merata ya, ada usia pertengahan SD, ada yang baru sekitar 5 tahun, namun ada juga yang sudah memasuki usia dewasa,” ucapnya.

Pria yang juga Hakim di PN Bogor ini menerangkan, dari pengalamannya menangani kasus pemohon ganti nama, beberapa alasan mengemuka. Yang paling banyak karena alasan demi masa depan si anak.

Diantaranya, ada kasus nama anak yang sebelumnya dianggap terlalu berat. Misalnya nama Akbar, yang secara umum artinya ‘besar’. Lalu si anak, secara kebetulan atau tidak, sering sakit-sakitan, misalnya. Nah biasanya keluarga punya kecenderungan untk mengganti nama, agar tidak sakit-sakitan lagi. Artinya demi masa depan si anak kan,” paparnya.

Selain itu, kata Arya, beberapa pemohon mengajukan penggantian nama karena alasan administrasi. Misalnya terjadi kesalahan administrasi nama, sejak awal anak lahir, yang kemudian menyebabkan si anak sulit masuk sekolah. “Misalnya sejak lahir inginnya ‘Aditia’. Ternyata pas urus-urus adminsitrasi ditulisnya ‘Aditya’. Pengaruhnya nanti saat sekolah, soal daftar atau kelulusan dan melanjutkan studi. Daripada susah lagi. Kadang kan cuma salah satu huruf, bisa jadi masalah di nantinya. Lagi-lagi memang soal masa depan,” tandasnya.

Untuk usia pemohon sendiri bervariasi, mulai dari usia belum sekolah, usia sekolah, sampai dewasa. “Merata ya. ada usia pertengahan SD, ada yang baru sekitar 5 tahun, namun ada juga yang sudah memasuki usia dewasa. Sebagian besar orang tua yang buat permohonan, jadi (nama) anaknya yang diganti,” imbuhnya.

Arya menjelaskan proses pemohon ubah nama, yakni melakukan pendaftaran dan memenuhi semua persyaratan, untuk kemudian dijadwalkan persidangan. Biasanya kalau untuk anak, dihadirkan dua orang sebagai saksi, selain orang tua, untuk memperkuat alasan penggantian nama. “Setelah keluar keputusan dari PN, baru bisa digunakan sebagai landasan perubahan data di dinas kependudukan,” jelasnya.

Sementara itu, di Kabupaten Bogor, Pengadilan Negeri Kelas 1A Cibinong mencatat ada 1.176 warga yang mengajukan permohonan ganti nama. Ini terhitung sejak Jauari 2017 sampai Juli 2018.

Di 2017 ada 999 yang mengajukan permohonan ganti nama. Sedangkan tahun ini dari Januari-Juli ada 177,”kata Panitra Muda Perdata PN Cibinong, Tasdik.

Bukan Cuma pemrohonan perubahan nama, pihaknya menerima gugatan untuk perbaikan kesalahan penulsian di akta kelahiran.

Kalau di 2017 ada 339 dalam permohonan akta kelahiran. Kalau tahun ini ada 147 pemrohonan,”bebernya.

Bila dijumlahkan, sejak 2017 sampai 2018 total warga yang ramai-ramai ingin mengganti namanya mencapai angka 1.300 orang. Humas Pengadilan Negeri Cibinong Kelas 1A Bambang Setiyawan mengatakan, jumlah permohonan perubahan nama terjadi banyak faktor. Salah satunya karena tidak sesuai dengan arti nama atau tidak sama dengan ijazah sekolah.

Namun demikian, kata Bambang yang paling mendominasi yakni karena masalah keberuntungan.

Banyaknya warga yang melakukan permohonan akta kelahiran akibat tidak samanya dengan nama. Baik nama itu tidak membawa keburuntungan dan banyak faktor lainnya,’’ pungkasnya. (ryn/mul/c/feb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *