Link Banner

CITEUREP– Membawa perubahan di sektor ekonomi bagi lingkungan, Koperasi Produsen Rancage yang merupakan salah satu koperasi binaan PT Indocement Tbk berhasil mendapatkan penghargaan bergengsi dari Kementerian Koperasi dan UMKM Indonesia. Penghargaan ini diberikan di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Kota Tangerang Selatan beberapa waktu lalu.

Satya Lencana Pembangunan dan Bhakti Koperasi disematkan langsung oleh Ketua Koperasi Indonesia Nurdin Halid, saat puncak peringatan Hari Koperasi Indonesia. penghargaan diberikan, karena koperasi ini dianggap telah berkontribusi dalam memajukan pertembuhan ekonomi mikro kecil dan menengah di Desa Pasir Mukti, Kecamatan Citeurep.

Direktur PT. Indocement Antonius Marcos mengatakan, hal ini menjadi kebanggan bagi perusahaan dan masyarakat di Kabupaten Bogor. Dikarenakan, hasil kekompakan anggota koperasi setelah bertahun-tahun, akhirnya bisa diakui hingga kancah nasional.

“Saya bangga dengan kemandirian yang ditunjukan oleh Koperasi Rancage, bisa mandiri dan terus berkembang hingga kini,” ujar Marcos sapaan akrabnya saat ditemui Metropolitan, kemarin.

Ia menjelaskan, saat ini perusahaanya telah membina tiga koperasi di 12 desa binaan di Kabupaten Bogor. Dan angka itu masih terus bertambah seiring animo masyarakat di desa binaan.

“Kami melihat di sini banyak potensi yang perlu kita kembangkan, kedepan rencana kita ingin ada koperasi yang khusus menangani potensi wisata, dan nantinya bisa di kerjasamakan dengan pemerintah,” katanya

Sementara itu, Ketua Koperasi Rancage Dedi Ahmadi mengatakan, koperasi ini terbentuk pada 2013. Koperasi ini merupakan koperasi produksi yang anggotanya berprofesi sebagai pengrajin-pengrajin alat rumah tangga dan industri dengan bahan dasar kaleng. Berbagai produk rumah tangga seperti oven, toples dan kompor hingga peralatan industri seperti cerobong asap dan ducting ac diproduksi oleh Koperasi Rancage.

“Pada sekitar tahun 2000-an pengrajin-pengrajin di Desa Pasir Mukti melakukan penjualan produk secara sporadis, kami semua saling sikut-sikutan untuk memperebutkan pelanggan,” katanya.

Menurutnya, tingkat penolakan terhadap gagasan ini sangatlah tinggi. Pengrajin-pengrajin yang memiliki modal dan jaringan pemasaran yang kuat enggan berbagi.(tri/b/yok)

Link Banner

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here