METROPOLITAN – Kenaikan harga BBM mulai diresahkan masyarakat, terkhusus penumpang bus jurusan Bogor-Parung. Musababnya, ongkos yang tadinya hanya sebesar Rp10 ribu, tiba-tiba dinaikan secara sepihak oleh sopir bus hingga mencapai 50 persen. Hal ini pun mengundang protes dari para penumpang. “Sudah mah bus banyak yang butut, suka ngetem lama, terus tarif dinaikin gak kira-kira jadi Rp15 ribu,” keluh penumpang, Habib (27).

Menurut lelaki yang mengaku tinggal di Parung ini, tarif itu sudah keterlaluan dan menyiksa masyarakat. Di sisi lain, fasilitas yang dirasakan penumpang tidak seimbang dengan harga yang harus dikeluarkan. Habib meyakini andai Dishub melakukan pengawasan ramp check secara agersif, pasti banyak bus-bus Pusaka jurusan Parung-Bogor yang sudah semestinya ‘dikandangkan’.

“Okelah anggap BBM itu naik. Tapi kan naiknya juga baru kemarin. Yang jadi persoalan ini naiknya sejak setelah lebaran sampai sekarang. Kata si kernet alasannya karena banyak armada yang dikandangin. Apa urusannya? Kalau fasilitasnya oke, ada pendingin udara, tidak banyak ngetem, mungkin kami bisa memaklumi,” kesalnya lagi.

Soal durasi, sambungnya, waktu tempuhnya pun dari Parung ke Bogor memakan waktu hingga dua jam, bahkan lebih. Seharusnya satu jam sudah sampai. “Iya atuh, sekali ngetem bisa lima menit. Jalannya juga paling kecepatan 30 KM perjam. Bagimana tidak lama?” tukasnya.

Mendengar keluhan tersebut Kabid Angkutan pada Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor Dudi Rukmayadi tidak akan diam. Dia akan membantu menyampaikan keluhan tersebut kepada Badan Pengelola Transportasi Jadebotabek (BPTJ). “Ini ranahnya pusat di BPTJ. Mereka yang memiliki kewenangan izin atas trayek tersebut. Namun secara peran Dishub dari Kabupaten, kami akan bantu menjembatani usulan ini agar dapat didengar oleh Pusat. Mudah-mudahan akan ada langkah ke arah ini,” ujarnya. (sir/b/rez)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here