METROPOLITAN – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menerjunkan 575 Bakal Calon Anggota Legislatif (Bacaleg) di 80 daerah pemilihan (dapil) se-indonesia. Dari jumlah tersebut, 9 di antaranya turun di Dapil Bogor dan rata-rata  berada di usia muda di bawal 45 tahun.

Ketua Umum PSI, Grace Nathalie mengatakan, anak-anak muda yang diusung PSI diyakini mampu menyasar kalangan pemilih pemula. Berbekal pendekatan komunitas hingga media sosial, dirinya berharap PSI mampu merebut 20 persen kursi di perlemen Senayan.

“DPR RI kami daftarkan 575 Bacaleg di 80 Dapil. Artinya ini 100 persen dan target kami 20 persen lolos ke parlemen,” kata Grace usai halal bihalal PSI di Joglo Keadilan, Kemang, Kabupaten Bogor, kemarin (20/7).

Meski demikian, Grace menyadari tidak semua wilayah akan cocok menggunakan pendekatan lewat media sosial termasuk di Kabupaten Bogor. Strategi PSI tidak melulu mengandalkan media sosial atau semacamnya karena menyesuaikan dengan daerah yang ada.

“Kita sadar tidak semua daerah punya akses internet yang bagus. Jadi kalau ada wilayah yang banyak pelosok, treatmen berbeda agar pesan kami sampai. Kan ada teman-teman pengurus dan relawan. Basisnya lebih ke orang per orang,” ungkapnya.

Selain itu, untuk penentuan nomor urut Bacaleg, Grace mengaku tidak ditentukan oleh kedekatan, uang dan lainnya. Nomor urut diberikan melalui pengundian sehingga siapapun memiliki kesempatan yang sama. Grace sendiri maju menjadi Bacaleg DPR RI dari Dapil Jakarta Utara-Barat dengan nomor urut lima.

“Jangan asal nomor satu doang. Tapi saya pastikan, semua yang maju di Pileg punya kualifikasi. Semua satu DNA, satu visi dengan PSI. Anti intoleransi, anti korupsi dan itu kami terjemahkan dengan membuka ruang kepada siapapun menjadi Bacaleg,” terang Grace.

Di tempat yang sama, salah satu Bacaleg PSI dari Dapil Jawa Barat V Kabupaten Bogor Fajar Riza Ul Haq, menceritakan alasannya memilih Dapil Bogor untuk maju ke Senayan. Yang pertama, lelaki yang akrab disapa Riza ini merasa konteks sosiologis Kabupaten Bogor sama dengan tempat dirinya dibesarkan yaitu di Sukabumi. Dirinya pun telah tinggal di Kota Hujan selama 10 tahun dan menganggap masalah sosial-pendidikan masih cukup banyak.

“ Sekarang saya membantu di Kementrian Pendidikan sebagai staff khusus. Masyarakat yang sangat banyak dengan wilayah yang juga luas. Saya akan fokus ke aspek pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM),” ujar Riza.

Selain itu, alasan lain bahwa PSI melihat Kabupaten Bogor sebagai wilayah strategis dan potensial. Dengan alokasi 9 kursi di DPR RI, Riza berharap mampu menjadi salah satu yang lolos. Terlebih, pandangan masyarakat Kabupaten Bogor terhadap parpol dianggapnya masih dinamis.

“Ini kan ada sembilan kursi, partai baru biasanya mengicar kursi ke tujuh sampai sembilan, karena yang atas biasanya di dominasi partai lama dan besar. Makanya kami mencari dapil potensial. Selanjutnya identifikasi masyarakat ke partai juga dinamis, PSI punya peluang,” bebernya.

Bicara Kabupaten Bogor, Riza memaparkan ada tiga masalah di Kabupaten Bogor berdasarkan data. Pertama adalah persoalan pembangunan SDM, kedua persoalan  infrastruktur dan terakhir soal lingkungan. Menurutnya, tiga masalah ini belum banyak tersentuh, khususnya oleh wakil rakyat di Senayan yang saat ini mewakili warga Bogor. Dari sembilan anggota DPRD yang maju dari Dapil Kabupaten Bogor 2014 lalu, tidak ada yang duduk di komisi 10.

“Saya akan membantu Pemkab Bogor meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Karena ini salah satu yang menentukan maju mundurnya wilayah. Sekarang IPM Kabupaten Bogor di bawah standar Provinsi Jabar. Padahal dari sisi demografis penduduknya terbesar tapi sumber daya yang ada pun belum memberikan manfaat lebih untuk masyarakatnya,” pungkas Riza. (fin/c/sal).

TURUN GUNUNG : Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Nathalie saat halal bihalal PSI di Joglo Keadilan, Kemang, Kabupaten Bogor, kemarin (20/7).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here