CISARUA – Kemacetan yang terus terjadi di jalur wisata Puncak dinilai sejumlah kalangan akibat Taman Safari Indonesia (TSI). Seharusnya, TSI memiliki akses jalan sendiri menuju tempat wisatanya. Hal ini dikatakan masyarakat Bogor Selatan Azet Basuni. Menurut dia, dalam satu hari di akhir pekan ribuan kendaraan memasuki lokasi wisata terbesar di Puncak ini. Bahkan saking banyaknya pengunjun ke TSI, antrian di loket pembayaran pun bisa mencapai simpang Cibeureum.

Tidak hanya di jalur utama kemacetan terjadi, di jalur alternatif pun terjadi hal yang sama karena banyaknya plang menuju TSI dipasang di jalan alternatif. “Ini kan membuat semua ruas jalan menjadi macet, di jalur utama sudah tentu macet, banyaknya plang penunjuk arah ke TSI di jalan alternatif membuat jalan tikus ini pun rawan kemacetan,” ujar Azet. Seharusnya, lanjut dia, Taman Safari Indonesia memiliki jalur sendiri dengan cara melakukan pembebasan lahan. Kalau tidak, TSI harus mau memaksimalkan jalan yang ada di jalur alternatif. Dengan begitu, akses pengunjung ke TSI bisa langsung ke lokasi.

Selain menjadi penyebab kemacetan, ia pun tidak melihat kontribusi TSI terhadap warga lokal. “Yang kerja saja banyak orang luar dari Cisarua, Csr nya pun tidak jelas kemana,” bebernya. Untuk itu, ia meminta kepada TSI untuk membuka jalan baru, dan mengumunkan alokasi Csr yang digelontorkan TSI. Sehingga masyarakat selatan tahu jika kontribusi TSI jelas alirannya.

Bahkan, ia menyesalkan jika TSI bisa menentukan kebijakan satu arah. Informasi tersebut ia terima dari banyak pihak. “Artinya, TSI bisa interpensi kepolisian dalam soal kebijakan satu arah, ini kan sudah tidak benar,” kesalnya. Terpisah, Humas Taman Safari Indonesia (TSI) Yulius terkesan enggan menanggapi keluhan masyarakat dan belum bisa dikonfirmasi. (ash/b/suf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here