Aku Andra, 26 tahun, bekerja di sebuah perusahaan swasta asing. Aku pernah patah hati ketika empat tahun lalu kekasihku mengkhianatiku. Dia berselingkuh dan memilih bersama yang lain, dan betapa pengecutnya dia kala itu. Sejak itu aku membenci segala tetek bengek ulang tahun. Setelah kejadian itu, aku menjadi dingin dan tertutup pada setiap pria.

Hingga akhirnya aku berhubungan dengan si Tuan Muda. Dan rela menadi wanita keduanya. Pertemuan diam-diam, bermesraan secara sembunyi sembunyi, saling kontak setiap hari. Namun semuanya begitu menyenangkan. Hingga akhirnya ia menikahi kekasihnya, perasaanku hancur. Aku sangat marah.

Beberapa kali aku memutuskan tak ingin menemuinya lagi namun ia menahanku. Namun ia selalu menahanku, dia bilang dia mencintaiku. Dalam hati berpikir kalau dia mencintaku kenapa bukan aku yang dinikahi? Saat itu ia memelukku erat, membuatku selalu luluh, karena aku ingat, aku pernah ditinggalkan saat aku sedang sangat mencintai mantan aku dan itu sangat menyakitkan. Aku tidak mau ia merasakan sakit yang sama.

Saat ini aku masih menjadi ‘kekasih gelap’nya dan entah sampai kapan. Seorang sahabat, yang beberapa bulan terakhir menjadi ‘tempat sampahku’ telah bosan menasehati hingga memakiku sebagai wanita hina perusak rumah tangga orang. Sungguh aku tidak marah. Ia benar, aku yang  salah, aku tahu pandangan buruk di luar sana mengenai selingkuhan.

Aku tak akan berusaha mengelaknya. Aku hanya berpikir, saat ini yang aku punya hanya waktu. Waktu yang berharga saat bersamanya. Karena itu aku selalu menikmati saat kami berdua. Memeluknya erat walaupun terkadang ia tidak nyaman mengingat aroma parfumnya, mengamati tiap gurat di wajahnya, menyimak setiap celotehannya. Akupun selalu berusaha selalu ada saat ia membutuhkanku. Aku baru akan berhenti saat dia memintaku meninggalkannya. Saat ia melepaskan tanganku maka saat itu aku akan menghilang. Aku tak pernah mampu meninggalkannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here