Tiap lembaran buku diari Maya aku buka. Sesekali air mata menetes, membasahi pipi. Aku terharu membacanya. Aku juga merasa bersalah karena  selama ini tak tahu isi hati Maya.

Apalagi saat aku membaca curahan hatinya saat mengetahui aku menerima surat ucapan dari seorang wanita.

Tertulis 25 Oktober 2008. Di buku itu,  Maya bertanya-tanya soal Ayu. Wanita yang pernah aku ajak candle light tepat di hari ulang tahunnya.

“Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui…”begitu tulisnya di buku harian itu.

Jantungku benar-benar mau berhenti. Selama aku dinas di Jogja, aku memang sempat menjalin hubungan dengan seorang wanita yang bernama Ayu. Ayu datang disaat usia pernikahanku dengan Maya telah mencapai 4 tahun.
Ayu, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan pernikahanku dengan Maya karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Ayu lagi setelah dekat dengannya selama 8 bulan, dan memutuskan untuk tetap setia kepada Maya.

Aku sungguh tak menduga kalau Maya mengetahui hubunganku dengan Ayu. Aku juga kaget saat tahu kalau Ayu pernah menemui istriku. Bahkan, di buku diarinya, Maya mengaku telah dihina.

Bagaimana mungkin Maya sekuat itu, ia tak pernah mengatakan apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah menghianatinya. Aku tahu Ayu, dia pasti telah membuat hati Maya sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya. Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Maya rasakan saat itu.

Aku terus membaca buku hariannya. Tertulis 23 Maret 2010.

“Agung marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada di mall mencari jam idaman Agung, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Agung agar ia tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur di sore hari lagi kalau Agung belum pulang walaupun aku lelah,”

Maya menuliskan jeritan hatinya di buku itu. Aku mulai menangis. Maya mencoba membahagiakanku tapi aku malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia membelikannya dengan susah payah.

Tak hanya itu, di 15 Mei 2009, Maya juga kembali menceritakan perjuangannya untuk tetap membuat aku bahagia. Tak ku sangka kalau meja yang ada di ruang keluarga itu adalah hasil menabungnya untuk hadiah Anniversary Pernikahan kami untuk Agung.

Aku tak dapat lagi menahan tangisanku , Maya tak pernah mengatakan meja itu adalah hadiah Anniversary Pernikahan untukku. Ya, ia memang membelinya dalam Anniversary Penikahanku dengan dia dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga.

Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Maya sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat. Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Maya dan ia terbangun… “Maafkan aku Sayang, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun…” (*/feb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here