Sudah Disegel, Transmart Tajur Nekat Bangun Gedung

by -

METROPOLITAN – Proyek pembangunan pusat perbelanjaan modern Transmart di Jalan Tajur, Kelurahan Pakuan, Kecamatan Bogor Selatan, kembali menuai sorotan. Belum mengantongi izin, perusahaan milik taipan Chairul Tanjung itu kedapatan melakukan aktivitas pekerjaan dan merusak garis segel Satpol PP yang sudah terpasang di pintu utama proyek sejak 5 Juni lalu itu.

Garis segel itu sempat dibuka selang beberapa hari kemudian, dengan alasan keperluan mengeluarkan alat berat. Kini perusakan pun kembali terjadi. Dua unit alat berat hilir mudik dan terlihat melakukan penggalian tanah di area proyek Transmart. Puluhan pekerja pun sibuk melakukan aktivitas pembangunan. Hal itu memicu anggapan lemahnya pengawasan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, dalam hal ini Satpol PP sebagai penegak peraturan daerah (perda), yang dianggap kecolongan oleh investor bandel.

Kepala Bidang (Kabid) Penegak Perda pada Satpol PP Kota Bogor Danny Suhendar membenarkan adanya perusakan segel dan aktivitas pekerjaan dalam lokasi proyek. Setelah menerima laporan, petugas Satpol PP Kota Bogor langsung mendatangi lokasi. Namun ia menampik anggapan kecolongan dan lemahnya pengawasan. “Kami datang dan menegur pihak pengembang untuk menghentikan pekerjaan apa pun sebelum ada IMB-nya dan masih dalam pengawasan segel. Setahu kami tidak ada aktivitas pembangunan di dalamnya,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Danny menambahkan, pihak Transmart akan dipanggil penyidik PPNS Satpol PP untuk dimintai keterangan soal aktivitas ilegal yang ada dan perusakan garis segel Satpol PP. Sebab, seluruhnya masih dalam pengawasan segel Satpol PP dan tidak boleh ada aktivitas apa pun. Meski begitu, ia enggan memberi penjelasan lebih lanjut soal perusakan segel yang sudah dilakukan lebih dari satu kali itu. “Harus kami dalami keterangan pengembang dulu oleh penyidik PPNS. Yang pasti, kami sudah memasang kembali garis Satpol PP. Dua stiker segel masih menempel di pintu masuk, gembok pun sudah kami kunci,” paparnya.

Terpisah, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bogor Denny Mulyadi membenarkan bahwa proyek Transmart tajur hingga kini belum melengkapi persyaratan untuk merampungkan IMB, termasuk alas hak. “Sudah pengajuan tapi belum lengkap persyaratan selanjutnya. Amdal dan Amdal Lalin juga masih proses. Intinya belum ada izinnya,” singkatnya.

Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Kota Bogor Ahmad Aswandi menekan Satpol PP Kota Bogor bertindak tegas dan jangan memberi ‘angin’ kepada pengusaha yang sering membandel dalam berinvestasi di Kota Hujan. Apalagi dalam kasus Transmart Tajur ini, pembukaan segel sudah terjadi dua kali, sehingga ini menjadi catatan tersendiri bagi Pemkot Bogor. Satpol PP pun dianggap kurang pengawasan usai menyegel proyek tersebut dan jangan sampai perusakan garis Satpol PP itu juga menjadi indikasi lemahnya pemkot di mata investor. “Jangan main buka sendiri, itu pelanggaran. Tidak bisa seenaknya lah, bisa dipidana kalau buka segel tanpa seizin Satpol PP kalau memang proses perizinannya belum rampung,” ucap Kiwong, sapaan karibnya.

Kiwong menambahkan, hingga kini pengelola Transmart sudah mengajukan perizinan dan tengah berproses, namun belum rampung. Maka siapa pun investornya, harus tunduk dan patuh terhadap aturan main berinvestasi di Kota Bogor. “Tempuh dulu proses perizinannya. Kalau sudah selesai mah silakan. Kalau belum ya jangan. Apalagi statusnya masih disegel Satpol PP. Investor harus menghormati wilayah,” ucapnya.

Meski begitu, Komisi I belum merencanakan inspeksi mendadak (sidak) ke proyek tersebut. Sebab, pihaknya ingin mendapatkan informasi terlebih dahulu dari korps penegak perda itu. “Belum, baru dapat info hari ini (kemarin, red). Ya koordinasi dengan Satpol PP yang katanya mau memanggil pihak Transmart-nya dulu. Kita menunggu itu dulu,” tegasnya.

Sementara itu, Corporate Communication General Manager PT Trans Retail Indonesia Satria Hamid pernah menyebut pihaknya tak ambil pusing soal perizinan pembangunan Transmart Tajur yang dianggap bandel dan mengabaikan aturan. Sebab, pihaknya merasa hanya sebagai penyewa. “Kami sebatas penyewa saja,” tutupnya. (ryn/b/els/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *