Tekan Jumlah Penderita, Edukasi Cara Penanganan

by -

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor mencatat, ada kenaikan kasus penderita kanker payudara dibanding kasus kanker yang lainnya. Dari 100 persen penderita kanker yang masuk ke RSUD, 40-50 persen diantaranya terdiagnosa kanker payudara. Hal ini dianggap peringatan bagi pemangku kebijakan di Kota Bogor untuk memperhatikan kondisi itu.

Direktur Umum (Dirut) RSUD Kota Bogor, dr Dewi Basmala mengatakan, sebelumnya dari penderita kanker yang masuk RS, didominasi kanker serviks. Namun kini malah kebanyakan terkena kanker payudara. Dari sekian banyak kasus, hampir seluruhnya terlambat mendeteksi adanya kanker pada payudaranya, sehingga saat masuk RS dalam keadaan yang sudah parah. “Itu warning buat kita. Makanya RSUD, bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Bogor membentuk Tripartit, untuk mengedukasi soal penyakit ini,” katanya kepada Metropolitan, saat Seminar Deteksi dan Tata Laksana Terkini Kanker Payudara di Aula RSUD Kota Bogor, belum lama ini.

Seminar pun diikuti ratusan dokter umum yang ada di fasilitas primer (faskes) dan puskesmas se-Kota Bogor, untuk meningkatkan wawasan soal deteksi dini kanker payudara. Ini sebagai respons banyaknya kasus penderita yang masuk RSUD sudah dalam keadaan yang parah. “Pertama, yang masuk ke RSUD sudah parah-parah, tidak karuan. Itu karena deteksi dininya telat, itu yang pertama. Lalu ada juga yang sudah ke deteksi, tapi tidak di-follow up. Ketiga, atau dia di follow up, tapi penanganannya salah, salah treatment, bukan dokter subspesialis yang menangani. Padahal harusnya itu expert khusus kanker yang tangani,” ucapnya.

Dia berharap, seminar bisa mengedukasi para dokter umum di faskes primer dan puskesmas, untuk menurunkan angka mortalitas dan morbilitas dari kasus kanker payudara. Apalagi, RSUD yang punya keunggulan dalam menangani pasien kanker, sudah dilengkatpi tiga dokter sub spesialis kanker. “Sarpras (Sarana dan prasarana) juga sudah dilengkapi, mulai dari deteksi dini. Apabila ganas, ada fasilitas kemoterapi.  Selain itu, harus ada kerja bersama antara dinkes, RSUD, dengan YKI, terus menerus, tidak hanya mengedukasi tenaga medis, tetapi nonmedis, yakni masyarakat,” paparnya.

Sementara itu, Ketua YKI Bogor Yane Ardian menuturkan, di Kota Bogor kasus penderita kanker payudara tertinggi dibanding kanker lain. Hal itu sama seperti daerah lain, maka perlu kerja sama dan sinergi antara YKI, Dinkes dan RSUD Kota Bogor. Ada kesamaan data terpadu, sehingga bisa memonitor jumlah pasti penderita. “Kasus semua sama, tapi tidak semua daerah punya YKI, makanya pasien dari wilayah lain juga banyak ke sini. Angka penderita kanker di Kota Bogor itu ada 330 penderita, akumulasi semua. Nah detail yang tertinggi itu kanker payudara, mencapai 70 persen dari jumlah itu loh,” pungkasnya. (ryn/b/els)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *