METROPOLITAN – Pencemaran Sungai Cileungsi nampaknya sudah menelan banyak korban. Emak-emak yang tergabung dalam Srikandi Sayang Sungai (S3) mengontrog Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor karena menjadi korban baunya Sungai Cileungsi. KOMUNITAS S3 yang juga warga Perumahan Puri Nusa Indah 2, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, mendatan­gi kantor DLH, kemarin. Me­reka meminta pemkab segera mengambil langkah tegas ter­kait dampak pencemaran yang merugikan warga sekitar.

Ketua S3 sekaligus Koordi­nator Aksi, Septiana, menga­takan, warga resah dengan adanya Sungai Cileungsi yang kerap menimbulkan bau tak sedap. Banyak pabrik yang buang limbah sembarangan karena kurangnya pengawasan Pemkab Bogor. “Kami mera­sakan baunya sangat meny­engat. Dulu jernih sekarang berubah hitam pekat,” katanya.

Ia menuturkan, banyak warga yang merasa dirugikan dengan adanya limbah pabrik itu. Sejak air sungai tercemar, warga sudah tidak mengguna­kan untuk keperluan sehari-hari, seperti mandi, mencuci dan minum. ”Kami butuh untuk hidup. Melihat kali menghitam, justru kami ke­bingungan untuk mengon­sumsi air. Kami minta Pemkab Bogor melalui DLH segera menindak tegas pabrik yang sudah membuat sungai ter­cemar,” tegasnya.

Bahkan sesuai hasil tes la­boratorium, lanjut dia, kon­disi Sungai Cileungsi sudah meresahkan. Banyak warga yang mengalami gatal-gatal. “Bukan hanya bau menyengat saat lewat saja, pakaian yang ada di lemari pun ikutan bau. Tolong dinas memperhatikan nasib kami,’’ ujarnya.

Terpisah, Kepala DLH Ka­bupaten Bogor, Pandji Ksa­triadji, mengaku sudah mela­kukan uji sampel terhadap air Sungai Cileungsi yang ber­warna hitam dan bau. Sungai yang terbentang di Kabupaten Bogor dan Bekasi itu tercemar limbah deterjen, minyak dan Total Suspended Solid (TSS). “Tiga parameter itu yang men­jadi temuan hasil uji lab. Se­mua melebihi ambang batas baku mutu air sesuai Peratu­ran Pemerintah nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelo­laan Kualitas Air dan Pengen­dalian Pencemaran Ling­kungan,” katanya.

Menurut Pandji, pihaknya baru akan menjadwalkan si­dak ke pabrik-pabrik setelah melakukan uji sampling air sekali lagi. “Besok kami akan ambil sampel air kembali, kemudian kita akan rapat dengan instansi terkait dalam hal ini BBWSCC (Balai Besar Sungai Ciliwung Cisadane). Baru kemudian dilakukan tindakan,” ujar Pandji.

Ia menambahkan, ada 12 pabrik di sekitar Sungai Ci­leungsi yang akan disidak. Namun sesuai aturan, ia per­lu melakukan tahapan-taha­pan pemeriksaan. “Kami tidak bisa menutup jika benar ada­nya pabrik yang buang limbah ke kali, tapi kami akan mela­kukan tahapan-tahapan yang nyata,” ucap Pandji.

Namun, jika nantinya ada perusahaan yang terbukti men­cemari aliran Sungai Cileung­si akan ditindak dengan pem­berian sanksi. ”Dikomunika­sikan dengan instansi terkait sesuai kewenangannya masing-masing, terus kita simpulkan, kalau melanggar ditindak, kalau memang tidak, dibina,” katanya.(mul/c/els/py)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here