Geger Aliran Sesat, Warga Lapor Polisi

by -9 views

METROPOLITAN – Warga Kampung Tenjojaya dan Ciawitali, Desa Pang­kalan, Kecamatan Cikidang, Kabupa­ten Sukabumi, mendatangi kantor polsek setempat. Mereka resah dengan adanya dugaan aliran sesat.

”Awal-awalnya selawatan dan semakin hari semakin banyak jamaah yang datang dari luar kota maupun warga sekitar yang diajak. Sampai mencapai sekitar 200 jamaah,” ujar tokoh masyarakat Kampung Tenjojaya, Wawan Setiawan, kepada awak media di Mapolsek Ciki­dang.

Wawan dan warga lainnya dibuat re­sah karena cara beribadah aliran terse­but yang dilaporkan beda dengan umumnya. Penganut aliran yang dilaporkan tidak mau ikut salat berjamaah dengan warga kambut yang dilaporkan beda dengan pung sekitar.

Hanya menguman­dangkan selawat. ”Kalau salat tidak selawatan dulu, itu nggak bakalan diterima menurut ja­maahnya. Itu yang kami maksud menyimpang dari ajaran yang kita anut,” paparnya.­

Wawan menambahkan, ja­maah yang dipimpin seorang pria dari Gentur itu sempat membuat warga tersinggung. Warga sering dicela ketika men­gumandangkan azan dan salat Jumat. Warga juga sering di­minta menurunkan pengeras suara masjid. ”Menurut jamaah­nya itu, lebih baik ngopi dari­pada salat Jumat,” ujarnya.

Tak sampai di situ, warga juga mendapat kabar bahwa para jamaah mengganggap pimpinannya sebagai cucu Nabi Muhammad SAW. Jamaah juga sedang membangun pe­santren yang tidak diizinkan warga. ”Bangunannya sudah sebulan dibangun.

Setiap ma­lam minggu selawatan dan itu sudah sekitar satu bulan. Awalnya saya sering ikut namun ke sini-sini tidak mengerti atau tidak sejalan dengan ajaran kami,” jelasnya. Warga sekitar sempat beru­paya menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Namun ada beberapa poin kesepaka­tan yang tidak dilaksanakan.

”Kesepakatan bersama se­perti tidak boleh melanjutkan pembangunan serta selawatan yang mengganggu dan sudah disepakati namun diingkari. Sampai hari ini masih mela­kukan pembangunan dan selawatan,” tuturnya.

Terpisah, Ketua MUI Kecamatan Cikidang Deden Zainal Mutaqqin mengatakan, hasil musyawarah di kantor Desa Pangkalan, intinya masyarakat menolak adanya ke­giatan jamaah diduga sesat di Kampung Tenjojaya atau Ciawi­tali.

”Pihak yang bersangkutan pun demi kemaslahatan umat, menyetujui serta tidak akan menga­dakan kegiatan itu lagi. Jadi intinya sudah selesai masalah di Desa Pangkalan itu,” ungkapnya. (su/mam/run)