Sejumlah tersangka dihadirkan saat rilis pengungkapan tindak pidana perdagangan orang di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (13/9). Bareskrim Polri berhasil melakukan pengungkapan perdagangan orang jaringan Malaysia dengan modus penempatan Pekerja Migran Indonesia dan mengamankan delapan orang tersangka beserta sejumlah barang bukti yang digunakan untuk menjalankan aksinya. Foto; Ismail Pohan/INDOPOS

 METROPOLITAN – Bareskrim Polri berhasil membongkar sindikat perdagangan manusia melalui media sosial (medsos). Korban berinisial ES (16) yang merupakan gadis asal Sukabumi menjadi korban human trafficking lantaran tergiur pekerjaan di Facebook.

”Awalnya korban berteman dengan seorang perempuan yang diketahui bernama YL. Di sana awalnya korban ditawarkan pekerjaan oleh pelaku,” ujar Wadirtipidum Bareskrim Mabes Kombes Pol Panca Putra di Gedung Bareskrim Mabes Polri.

ES yang diketahui warga Sukabumi, kenal dengan YL karena dikenalkan seorang pria berinisial D yang kini masih dalam perburuan polisi. ”YL ini dikenalkan D. Setelah YL dengan korban bertemu, akhirnya kor­ban tergiur dengan tawaran dan langsung meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk be­kerja di Jakarta. ”Setelah lama berhubungan, akhirnya ES memutuskan mengambil ta­waran YL. Saat itu juga ES me­minta restu kepada orang tua untuk bekerja,” katanya.

Akhirnya ES langsung berang­kat ke Jakarta, kemudian korban dijemput seorang pemuda be­rinisial JS di Terminal Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur. ”Yang jemput bukan YL tapi seorang JS. Lalu JS mem­bawa korban ke suatu tempat dan kemudian dokumen-do­kumen korban dipalsukan,” paparnya.

Setelah dokumen-dokumen korban seperti KTP dan KK dipalsukan, JS menyerahkan ES kepada IM. ”Setelah peker­jaan JS sudah dilaksanakan, JS menyerahkan kepada IM,” be­bernya.

Kemudian IM membawa kor­ban ke Pulau Batam yang nanti­nya dibawa ke Bengkalis, Ke­pulau Riau untuk diseberang­kan ke Malaysia. ”IM memgirim keberangkatkan ke Batam. Dari sana menggunakan kapal kemudian ke Bengkalis diurus perizinan pembuatan paspor menggunakan data dokumen yang sudah dipalsukan,” terang­nya.

Namun sesampainya di Ma­laysia, korban baru menya­dari bahwa dirinya menjadi korban penjualan manusia. ES mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai kesepakatan awal. Bahkan ES diperlakukan tidak manusiawi di Negeri Jiran. ”ES mendapatkan perlakuan kasar dari majikannya,” ucapnya.

Karena ada perlakuan se­perti itu. ES akhirnya melarikan diri. Di Malaysia, ES luntang-lantung dan akhirnya ES dite­mukan warga Indonesia yang sedang berlibur di Malaysia. ”Beruntung ada keluarga kecil di Malaysia yang melihat ES di sana, kemudian ES dibawa ke KBRI di Malaysia,” lanjutnya.

Dari penyelidikan tersebut, polisi tidak memerlukan waktu lama untuk melakukan penang­kapan terhadap para pelaku. ”Kita berhasil menangkapnya di beberapa tempat, yakni YL, JS dan IM yang memiliki peran berbeda-beda,” tegasnya.

Akibat aksinya, para pelaku akan dikenakan Pasal 4 UU RI No 21 Tahun 2007 tentang Pem­berantasan Perdagangan Orang atau Pasal 81 dan Pasal 86 (b) UU RI No 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.

Sebelumnya, ES ditemukan Neng Ai Maryati seorang war­ga Indonesia yang tinggal di Negeri Jiran tersebut. Neng Ai mengaku telah tinggal selama 20 tahun di Malaysia, suaminya adalah Warga Negara Malaysia. ”Saya sendiri kelahiran Penga­lengan, Bandung. Menikah dengan pria berkebangsaan Malaysia, sudah tinggal 20 tahun di sini,” jelas warga Pangsapu­ri Seri Jasa, Taman Sungai Besi Indah, Seri Kembangan Belakong, Selangor Malaysia tersebut.

Dari cerita yang diperoleh ES, Neng Ai menduga remaja ter­sebut telah menjadi korban human trafficking. ”Dia sempat diperlakukan tidak wajar oleh orang yang membawanya dari Indonesia, dia tidur dan disuruh mandi dengan hewan di tempat sempit,” lanjutnya.

Kepada Neng Ai, ES mengaku tinggal di Kampung Kadupugur, RT 04/03, Desa Wangureja, Kecamatan Nyalindung, Kabu­paten Sukabumi. Dia berharap bisa pulang ke Indonesia dan bertemu keluarganya. ”Kalau untuk bekerja di Malaysia jelas tidak boleh, usianya masih 16 tahun dan kedatangannya ke Malaysia tidak resmi. Kalau bisa dibantu, Entin ingin pulang dan bertemu keluarganya,” tandasnya. (dtk/mam/run)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here