Apa yang akan kau rasakan bila suamimu menikah lagi? Mungkin skenario buruk ini tak pernah ingin engkau bayangkan. Apalagi jika engkau merasa sudah mengorbankan segalanya demi dia. Kau rela berpindah agama, kau berjuang mati-matian mendampinginya saat di titik terendahnya.

Dan kemudian, tanpa pernah kau duga, ia membawa perempuan lain ke dalam hidupmu . Namaku Sharen, Aku seorang mualaf dan bekerja sebagai pramugari. Tiga tahun terakhir ini adalah masa-masa bahagiaku. Aku sudah punya dua anak.

Lengkap sudah aku memi­liki anak laki-laki dan perempuan. Aku sem­pat bekerja di luar negeri untuk membantu usaha suamiku yang bangkrut. Alhamdulil­lah 10 tahun perjuanganku di Arab Saudi tidak sia-sia.

Suamiku sudah kembali pu­lih, bahkan usahanya kini semakin pesat. Suamiku juga aktif mengikuti kegiatan pengajian. Namun satu minggu yang lalu suamiku bicara padaku, dia akan berpoligami dengan seorang hafidzah bernama Azi­zah, gadis berusia 25 tahun.

Bila ia meng­inginkan istri seorang hafidzah, menga­pa dia dulu menikahiku yang seorang Katolik? Dengan kondisi seperti ini aku hanya bisa curhat dengan temanku yang dulu saama-sama sekolah pramugari.

Kepa­danya aku menceritakan semuanya. Dia me­nyarankan aku meminta petunjuk kepada Allah SWT. Katanya, bila poligami ini baik bagimu dan keluargamu maka Dia akan mampu membuatmu ikhlas menerimanya. Namun bila poligami ini kelak tidak menda­tangkan kebaikan bagimu dan bagi keluar­gamu, mintalah agar prahara itu segera men­jauh darimu.

Beberapa minggu setelah curhat ke sahabat, aku merasa lebih bahagia. Aku pun mengam­bil keputusan untuk menggugat cerai sua­miku. Saat itu, sejujurnya aku masih dalam kondisi marah pada Allah. Aku merasa Allah banyak meminta dari hidupku. Aku mulai berhitung setiap sedekah, amal ibadah yang telah kulakukan untuk keluargaku khususnya suamiku.

Ibu mertuaku yang sangat meny­ayangiku itu setiap malam menangis mem­bujukku untuk mencabut gugatan ceraiku. Aku gamang, aku bingung. Hingga akhirnya di sepertiga malam di mana seharusnya ma­nusia bermunajat kepada Rabb-Nya, namun aku justru menumpahkan kekesalanku pada Tuhanku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here