Keinginan suami untuk berpoligami sungguh menjadi dilema buatku. Aku memohon petunjuk kepada Allah SWT. Aku berdoa sepanjang malam sampai akhirnya tertidur. Sedikit lega rasa hatiku. Esok malamnya kuulangi lagi tengadahkan tanganku di sepertiga malam memohon ampunan karena entah mengapa tiba-tiba datang rasa bersalah.

Hingga suatu hari dengan lantangnya ibu mertuaku mengatakan satu hal pada suamiku,”Pras, bila kamu tetap ingin menikahi gadis itu, pergi kamu dari rumah ini! Biarkan mama bersama Sharen dan anak-anakmu di rumah ini! Mama malu memiliki anak yang tidak tahu diri seperti kamu!”

Aku keluar dari kamarku. Ibu mertuaku langs­ung memelukku. ”Kamu jangan pergi Sharen, biarkan Pras yang pergi. Dia tidak pantas men­jadi suamimu. Maafkan mama yang telah gagal mendidik Pras menjadi laki-laki yang tahu diri.” Aku hanya menangis dalam diam. Suamiku pun hanya menunduk diam.

Malam itu kami bertiga berdiskusi. “Baiklah ma, aku tidak akan menikahi Azizah, bila itu hanya akan membuat mama dan Sharen ter­sakiti. Aku sangat menyayangi kalian. Maaf­kan aku….” Suamiku memeluk kami berdua. Aku lega, kupikir inilah jawaban dari Allah atas diskusi panjang di atas sajadahku di tiap sepertiga malam. Namun ternyata aku salah.

Esok malamnya ba’da Isya, Azizah datang ke rumahku bersama kedua orang tuanya. Pada malam itu aku tahu, ternyata bukan suamiku yang ingin menikahi Azizah, tetapi ayah Azizah yang merupakan teman pengajian suamiku yang me­minta suamiku untuk meminang anaknya. Malam itu jelas kutatap wajah Azizah.

Azizah, semula kupi­kir dia adalah gadis belia yang can­tik dengan segala pesona yang meng­gairahkan mata lelaki termasuk suamiku, ternyata sangat jauh dari itu. Dia gadis lugu yang selalu menun­dukkan kepala. Ada keteduhan di wajahnya.

Di malam itu aku tahu, Azizah memi­liki miom yang akan segera dioperasi dan dokter mengatakan ada 90% kemungkinan Azizah tidak akan mampu memberikan ke­turunan bagi suaminya. Sudah tiga orang pe­muda lajang membatalkan khitbahnya setelah mengetahui kondisi Azizah. Entah mengapa ayah Azizah memiliki kepercayaan pada sua­miku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here