Malam itu aku baru tahu kalau wanita yang akan menjadi istri kedua suamiku ternyata dalam kondisi sakit dan divonis tidak bisa hamil.

Kudekati suamiku dan kutanya kenapa suami nggak pernah cerita? Dia pun menjawab: ”Karena aku tidak mau kamu menganggapnya sebagai modus.”

Kudekati ibu mertuaku, ”Mama, kumohon terimalah Azizah menjadi bagian dari keluarga kita. Aku ikhlas menerimanya sebagai adik ma­duku.”

Azizah dan ibunya nyaris tersungkur di kakiku, namun aku cegah. Kupeluk Azizah dan kukatakan, ”Kau akan menjadi saudaraku.” Suamiku terperangah menyaksikan semua itu.

”Kamu yakin telah ikhlas dengan keputusanmu sayang?” ”Iya mas. Nikahi dia. Dia akan men­jadi bagian dari keluarga kita,” jawabku man­tap.

Suamiku terlihat masih ragu. Aku terse­nyum, ”Aku akan mencabut gugatan ce­raiku besok.” Alhamdulillah, seisi rumah mengucapkan hamdalah. Sudah satu bulan ini suamiku menikah dengan Azizah. Kami tinggal satu rumah. Ku­rasa tak masalah, rumah kami sangat besar.

Kini bisnis suamiku makin pesat. Ia lebih sering melibatkan aku dalam bisnisnya. Aku yang tadinya hanya di rumah mengurus rumah, kini lebih sering bersama suami untuk menangani bisnis. Anak-anakku di rumah bersama Azizah.

Di saat tetangga kami harus membayar Rp5 – 6 juta untuk seorang baby sitter, anak-anakku justru dibimbing oleh seorang hafidzah.

Anakku yang pertama sudah hafal 1 juz dalam 1 bulan selama ada Azizah. Setiap malam mereka mengaji dibimbing oleh um­minya. Ini pelajaran poligami yang langsung Allah ajarkan padaku.

Selama ini aku berpikir poligami adalah syari’at yang tidak paham pada perasaan wanita. Karena aku tidak pernah bisa menerima saat istri sedang sakit suami justru berpoligami, seakan nafsu lelaki lebih pantas untuk dilindungi.

Namun ternyata kini Allah justru memilihku menjadi orang yang menjalankan poligami sebagai solusi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib gadis seperti Azizah bila tidak ada syari’at poligami.

Haruskah menjalani kesendirian dalam hidup­nya hanya karena vonis dokter tidak mampu memberikan keturunan? Semula kupikir ini hukuman Allah bagiku. Namun ternyata Allah sedang menyanjungku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here