METROPOLITAN – USAI penetapan nomor urut pasangan calon presiden dan wakil presiden, tadi malam, sejumlah paranormal sudah memprediksikan pemenangnya. Nomor urut satu yang dikantongi pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin digadang-gadang bakal kembali memimpin negeri ini sesuai makna di balik angka tersebut.

Berdasarkan pengundian nomor urut pasangan capres-cawapres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), Joko Widodo-Ma’ruf Amin mengantongi nomor urut 1. Se­dangkan rivalnya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kantongi nomor urut 2.

Bukan sembarang angka. Dalam bahasa Jawa, angka itu terurut mulai dari 1-0 dengan deretan; 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0. Setiap angka punya arti sendiri.

Nomor 1 misalnya. Berdasarkan filosofinya, angka tersebut diar­tikan dengan Esa + Eka + Ika + Tunggal (Keagungan Tuhan), Manunggal (menyatu), Wiwitan+Kawitan (awal, per­tama), Bhumi + Buana (Bumi), Surya (Matahari), Candra (Bulan), Ratu (pemimpin), Negoro (ne­gara), dll.

Ada kata Ratu (Pemimpin) dan juga Negoro (Negara) dalam angka 1. Yang diartikan nomor ini punya peluang besar men­jadi pemimpin negeri.

Berbeda halnya dengan nomor dua. Yang diartikan Dwi (dua yang menyatu/keseimbangan), Tengen (tangan), Sikil (kaki), Kuping (telinga), Mripat (mata), Netra (penglihatan), Panembah (menghormati), Bekti (pengab­dian), dll.

Lalu apakah itu artinya pasangan nomor urut satu akan kembali memimpin di negeri ini? Bebe­rapa paranormal pun angkat bicara tentang ramalan pilpres 2019. Dalam sebuah rekaman video yang diunggah Mbah Mi­jan di Youtube, menyebut pilpres 2019 tetap dikuasai Joko Widodo atau Jokowi. ”Presiden Indone­sia masih dipegang Jokowi di 2019,” ujarnya.

Begitu juga dengan ahli Fengs­hui Suhu Yo. Menurut Suhu Yo, lamanya masa jabatan para pre­siden RI dapat diprediksi pada jumlah huruf O yang ada pada nama lengkap mereka.

“Kalau dilihat dari banyak segi, sebenarnya presiden Indonesia yang bisa lama, saya bilangnya yang ada O-nya saja. Contoh Soekarno, ada O-nya panjang. Soeharto, ada O-nya panjang, Gusdur nggak ada O-nya nggak panjang. Megawati nggak ada O-nya nggak panjang. Habibie nggak panjang, Susilo Bambang Yudhoyono panjang, dua peri­ode,” jelasnya.

Ia pun mencontohkan pada saat pilpres 2014 lalu, Jokowi unggul dari Prabowo lantaran faktor huruf O di nama lengkap Jokowi lebih banyak dibanding pesaingnya saat pilpres yaitu Prabowo. Ini juga diprediksi akan kembali terulang di pilpres 2019, di mana Jokowi yang mengantongi nomor urut 1 diramalkan akan terpilih lagi. ”Siapa pun presiden Indonesia saat ini dan nanti, akan bertahan lama mengemban jabatan jika pada namanya ba­nyak terdapat huruf O,” terangnya.

Hal ini rupanya diamini pula ramalan Jangka Jayabaya. Pakar Ilmu Spiritual Kang Masrukhan mencoba meramalkan pilpres 2019 berdasarkan ramalan Jang­ka Jayabaya yang sudah ada se­jak ratusan tahun silam.

Menurutnya, Notonagoro se­bagai dasar Ramalan Jayabaya untuk nama-nama pemimpin negeri ini sudah terbukti sejak era Presiden Soekarno, Presiden Soeharto dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sedangkan presiden lain se­perti BJ Habibie, Gusdur, Mega­wati dan Joko Widodo tidak masuk di dalamnya. Notona­goro memiliki arti No yang dira­malkan sebagai Soekarno yang menjadi presiden pertama di Indonesia. To sebagai Soeharto, No diartikan sebagai Yudhoyono atau SBY.

“Sedangkan suku kata Go dan Ro masih menjadi teka teki sia­pa yang menjabat sebagai pre­siden berikutnya. Jokowi yang telah menang dalam pilpres 2014 memang tidak menggambarkan suku Go atau pun Ro. Namun Jangka Jayabaya memiliki jawa­ban dalam kemenangan Jokowi di pilpres 2014 lalu,” bebernya.

Kang Masrukhan mengatakan, meski tidak ada suku kata Go ataupun Ro, ramalan ini bisa dikembalikan ke kata No atau To karena Indonesia harus kem­bali ke awal, membangun ne­geri ini dari keterpurukan. Sebab itu, Jokowi atau Prabowo masih diprediksi dengan suku kata No dan To ini.

Jika dilihat dari dua kandidat, Joko Widodo memiliki empat huruf O, sedangkan Prabowo Subianto hanya memiliki tiga kata O. Dari sinilah Ramalan Jayabaya menyatakan jika pe­mimpin yang memiliki arti nama dengan O lebih banyak yang jadi pemenang,” sebutnya.

“Jawabannya jelas sudah bahwa Joko Widodo kembali menjabat sebagai presiden RI ketujuh un­tuk dua periode,” tutur Kang Masrukhan. Meski begitu, di tengah ramalan sejumlah ahli metafisika tentang kemenangan Jokowi dalam beberapa pemilu, nyatanya nomor urut genap yang keluar sebagai pemenang.

Sebut saja pilpres 2004, saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpasangan dengan Jusuf Kal­la (JK). Keduanya yang mengan­tongi nomor urut 4 sukses me­menangkan pilpres 2004. Ini juga berlanjut di pemilihan be­rikutnya pada 2009. Di mana SBY kembali terpilih bersama Bo­ediono dengan nomor urut dua. Sampai akhirnya terakhir pilpres 2014 yang membuat nama Jo­kowi-JK keluar sebagai presiden dan wakil presden keenam.

Apakah mitos ini masih ber­laku untuk pilpers 2019? Sejum­lah kandidat punya pandangan tersendiri etrkait angka dalam nomor urut.

Calon presiden petahana Joko Widodo bersyukur bisa menda­patkan nomor urut 1 dalam pe­milihan presiden 2019. ”Ya Al­hamdulillah, kita mendapatkan nomor urut 1. Ini memudahkan kita berkomunikasi dengan ma­syarakat karena kita ingin ber­satu,” kata Jokowi kepada war­tawan usai pengambilan nomor urut di gedung KPU RI, Jakarta, Jumat (21/9/2018).

Sedangkan capres Prabowo Subianto menganggap nomor urut dua sebagai lambang ke­menangan. ”Ya bersyukur, nomor dua lambang kemenangan,” ungkap Prabowo. (de/feb/run)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here