Suami, Maafkan Aku (1)

by -

Aku adalah seorang istri yang mungkin bisa dibilang tidak tahu diri. Bagaimana tidak, suami yang sudah mau taubat aku hancurkan secara mental dan fisik.

DULU, aku seorang yang keras hati, egois dan suka merasa paling benar. Mungkin karena aku anak pertama dari 4 ber­saudara. Ketika menikah, aku dapatkan seorang suami yang broken home.

Awal pernikahan kami cukup prihatin tapi bahagia, tapi tanpa aku sadari aku mulai dominan, ego aku mengatakan suami harus menurut denganku.

Hingga suatu saat suami sakit parah karena perlakuan aku, dia mencoba pergi dan aku diamkan. Dalam keadaan sakit parah dia tidur di pos ronda di daerah lain.

Dalam demamnya dia semakin terluka hatinya atas perlakuanku yang tidak menganggapnya. Ketika itu anakku baru berumur 4 tahun. Dan umur saya 28 tahun.

Akhirnya suamiku pulang karena rindu dengan anaknya. Ketika itu, tetanggaku ada yang menaruh hati suamiku, suamiku tidak pernah menggubrisnya.

Tapi karena perlakuanku pada suamiku tidak kunjung membaik, akhirnya suamiku melampiaskan kekesalannya dengan berseling­kuh bersama tetanggaku yang masih ABG tadi.

Ketika suamiku berkata jujur, aku marah membabi buta. Suamiku pun menyalahkanku karena aku yang tidak pernah menghargainya. Akhirnya suamiku berkata bahwa dia akan taubat dan kembali pada keluarga. Ini sangat terbukti karena dia tidak pernah menghubungi ABG itu lagi, karena ingin keluarga kami utuh.

Tahun 2009 lahirlah anak kedua kami. Beberapa bulan kemudian diketahui aku kena kanker rahim, sehingga aku harus mengangkat rahim. Betapa hancurnya hatiku. Suami sekarang rajin beribadat.

Kemudian dia pun aktif menjadi pengu­rus keagamaan. Hingga akhirnya dia dipercaya untuk belajar agama di suatu sekolah agama agar dapat memperdalam ilmu agamanya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *