FADLI/METROPOLITAN

METROPOLITAN – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor tengah membangun shelter (halte, red) senilai Rp1,5 miliar di 15 titik Kota Hujan. Pembangunan ini diklaim se­bagai fasilitas pendukung kon­versi tiga angkutan kota (angkot) menjadi dua angkot modern. Proyek miliaran dari APBD tingkat II ini ternyata menim­bulkan polemik. Terlebih, pembangunan shelter dilaku­kan di atas jalur hijau.

Anggota Komisi III DPRD Kota Bogor, Eka Wardhana, pun angkat bicara. Ia mempertanyakan apakah tidak ada titik lain untuk membangun shelter, sehingga harus mengorbankan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

”Memang lokasi lain nggak ada, sehingga harus mengor­bankan RTH. Apalagi, sampai ada pohon yang ditebang. Ini kajiannya kurang matang dan kami baru dapat laporan. Yang jelas, kami akan sidak ke lo­kasi pekan ini,” kata Eka saat ditemui wartawan koran ini di ruang kerjanya, kemarin.

Mengenai konsep angkot mo­dern memang harus ditunjang sarana-prasarana yang mumpuni, misalnya pembangunan shelter dan jalur khusus. “Kalau tetap berjalan di jalur umum, sama saja dengan angkot biasa. Makanya beberapa waktu lalu kami mempertanyakan angkot sudah mau di-launching tapi shelter belum ada,” terangnya.

Ia menilai program ini tidak melalui kajian matang dan ter­kesan hanya memanfatkan uang rakyat. “Jangan sampai ada lagi pembangunan yang mu­bazir,” ujarnya. Eka menamba­hkan, pihaknya akan melaku­kan evaluasi pemanfaatan dan dampak lalu lintas yang bakal terjadi. “Kami juga akan me­manggil PUPR dan dishub un­tuk evaluasi,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi Tek­nik Prasarana Dishub, Adhi Ba­gus, mengatakan, 15 shelter akan dibangun di sepanjang Jalan Pemuda, Ahmad Yani dan Paja­jaran. Pembangunan tersebut bakal selesai dalam 120 hari kerja dengan anggaran senilai Rp1,5 miliar.(ads/c/yok/py)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here